“Dia Sudah Tidak Cinta!”
April 20, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Featured, Relationship

Suamiku adalah seorang insinyur, aku mencintai sifat apa adanya yang alami. 3 tahun masa pra nikah dan 5 tahun masa-masa pernikahan hingga saat ini. Sekarang, harus aku akui, bahwa aku mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasanku mencintainya pada waktu dulu telah berubah menjadi sesuatu yang tak menakjubkan lagi.
Aku seorang wanita yang sentimentil, benar-benar sensitif dan berperasaan halus. Aku merindukan saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Sering aku berfantasi dan membayangkan suamiku bisa menjadi seperti pria-pria romantis di film-film, bahkan membandingkannya dengan mantan pacar-pacarku yang terdahulu. Namun suamiku bertolak belakang, rasa sensitifnya kurang. Ketidakbecusannya menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan dan impianku tentang cinta. Dia orang yang terlalu apa adanya dan jauh dari romantis. Read more
PEMBOROSAN EMOSI
April 20, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ, Featured

“Manage your emotions and you will manage the quality of your life!”
Seorang karyawan pernah mengeluh demikian, “Kenapa ya, meskipun saya sudah tidur cukup, setiap kali bangun pagi saya selalu merasa masih lelah dan sepertinya butuh waktu lebih lama lagi untuk beristirahat. Padahal, saya sudah tidur 8-9 jam setiap hari.” Pernahkah juga Anda merasa tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat tetapi tubuh Anda terasa lelah sekali? Jawabannya adalah, karena kita tidak hanya memiliki energi fisik saja, tetapi juga memiliki energi emosional. Keduanya merupakan sumber energi Anda.
Jika Anda memboroskan energi emosi Anda, maka energi fisik Anda juga akan tersedot. Anda tentu pernah mengalami hari dimana Anda bertemu dengan berbagai peristiwa yang menyedot energi emosi Anda. Bos yang temperamental seharian, konflik dengan pasangan, rekan kerja yang menyebalkan, klien yang banyak maunya, atau kejadian-kejadian tak terduga seperti dijambret, komputer terkena virus, dan sebagainya. Semuanya menyedot energi emosi Anda dan tubuh fisik Anda turut menerima akibatnya.
Tapi, yang seringkali terjadi adalah, ada banyak orang yang membuang-buang energi emosinya bukan untuk mengurusi hal-hal penting. Inilah yang saya sebut dengan pemborosan emosi. Kalau Anda menghadapi masalah emosional yang berat, misalnya Anda konflik dengan rekan kerja dan kemudian Anda mengeluarkan energi emosi cukup besar untuk melakukan rekonsiliasi, itu adalah hal yang wajar. Tetapi kalau Anda tidak menghadapi situasi yang menuntut pengeluaran energi emosi kemudian Anda menghambur-hamburkan energi emosi Anda, inilah yang disebut dengan tindakan konyol. Menghamburkan energi emosi Anda sama saja dengan mengurangi produktifitas Anda serta menumpuk “sampah” dalam kehidupan Anda.
Bagaimanakah bentuk-bentuk pemborosan emosi ini? Inilah 3 hal sepele yang kadangkala tanpa kita sadari bisa memboroskan energi emosi kita secara luar biasa:
1. Peristiwa-peristiwa kecil yang seharusnya bisa kita abaikan tetapi malah kita urusi. Misalnya, disalip pengendara motor dengan tidak sopan. Daripada kita menghabiskan energi untuk marah-marah, menjadi bad mood seharian, mending kita menyimpan energi itu untuk hal lain.
2. Menggerutu dan Menggosip
Para ahli organisasi dan psikolog sepakat bahwa menggerutu dan menggosip hampir tidak membawa manfaat baik untuk orang lain maupun untuk diri-sendiri. Jika Anda tidak terima dengan situasi yang terjadi, gunakan energi Anda untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa perubahan. Jika hal itu tidak bisa Anda ubah, terimalah atau menyingkirlah. Jangan buang-buang waktu dan energi emosi Anda dengan komentar-komentar yang tidak ada gunanya.
3. Berandai-andai
Banyak orang menghabiskan energinya hanya untuk menyesal dan berandai-andai. Dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah dan kita harus menerimanya. Salah satunya adalah kelahiran kita. Daripada Anda berandai-andai dilahirkan di keluarga kaya, gunakan energi Anda untuk berkarya dan berusaha agar Anda menjadi orang yang lebih kaya. Berandai-andai hanyalah tindakan menjaring angin, melelahkan, menghabiskan waktu, namun tak menghasilkan apapun.
Hematlah energi emosi Anda dan gunakanlah secara cerdas, maka Anda akan menjadi lebih produktif, dan pada gilirannya, kualitas hidup Anda akan menjadi lebih baik.
“Kita tidak bisa menghentikan ombak yang datang, tetapi kita bisa belajar untuk berselancar di atasnya.”
LEARNING EQ FROM GENGHIS KAHN
April 20, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ, Featured

Ini adalah artikel yang pernah saya tulis untuk newsletter HR Excellency, salah lembaga pelatihan terkemuka di Indonesia yang dengan aktif mengembangkan kecerdasan emosi di berbagai perusahaan multinasional dan lembaga-lembaga pendidikan. So, selamat menikmati:
Beberapa orang menganggap Jenghis Khan adalah seorang penakluk yang buas dan barbar. Memang ada bagian-bagian dari tindakannya yang tidak pantas untuk kita tiru. Namun, jika Anda membaca kisah hidup dan prinsip-prinsip kehidupan yang ia pegang, Anda akan mengerti bahwa Jenghis Khan bukanlah seorang penguasa yang haus darah dan bertindak kejam tanpa alasan. Saya berani mengkategorikan Jenghis sebagai salah satu pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi. Semua tindakan yang ia lakukan bukanlah diputuskan dalam keadaan ia membabi buta, melainkan justru dengan kesadaran penuh. Salah satu ciri orang yang cerdas emosinya adalah, ia secara sadar MEMILIH untuk merasakan sesuatu dan mengekspresikan perasaan itu dalam bentuk tindakan yang sudah ia sadari sepenuhnya.
Beberapa orang memiliki kesalahan pemahaman bahwa orang yang cerdas emosinya tidak akan marah-marah dan selalu tersenyum tenang menghadapi apapun. Padahal, inti dari kecerdasan emosi bukanlah terletak pada ekspresinya, namun terletak pada KESADARANNYA dalam MEMILIH ekspresi tersebut. Artinya, orang yang cerdas emosinya juga bisa marah. Hanya saja, ia akan marah dengan sadar. Bahkan, bisa dikatakan bahwa memang ia memilih untuk marah karena ia sudah mempertimbangkan dampak dari kemarahannya dan melihat bahwa ekspresi marah adalah satu-satunya ekspresi yang paling tepat untuk situasi saat itu.
Jika Anda membaca kisah Jenghis Khan, setiap penumpasan yang kejam dan tanpa ampun selalu ia lakukan dengan penuh kesadaran, bukan dengan keadaan membabi buta. Jenghis adalah orang yang sangat menghargai kesetiaan dan komitmen di atas segalanya. Bahkan, Jenghis sendiri adalah seorang pemaaf. Ini terbukti ketika ia merekrut seseorang yang pernah hampir membunuhnya untuk menjadi salah satu jendral utamanya. Jika Jenghis melihat adanya kesetiaan, sportifitas, dan komitmen, ia akan menghargainya entah itu dilakukan oleh lawan maupun kawan. Tetapi ketika ia dikhianati dan melihat pelanggaran komitmen yang sudah disepakati bersama, Jenghis akan melakukan penghukuman yang mengerikan. Penghukuman itu ia lakukan bukan karena ia gelap mata, melainkan sebagai “monumen” agar orang lain bisa menghargai apa arti komitmen dan kesetiaan.
Salah satu indikasi lain dari kecerdasan emosi Jenghis adalah kemampuannya untuk menguasai diri. Ada 3 kasus besar yang menjadi bukti dari kualitas pengendalian diri Jenghis. Pertama, ketika ia remaja, ia pernah ditangkap oleh sebuah suku Mongol tanpa alasan yang jelas. Setelah sekitar 1-2 minggu ia harus menjalani kehidupan tawanan yang mengerikan, dengan susah payah ia berhasil melarikan diri. Namun, ketika ia berhasil bergabung dengan keluarganya dan memiliki kesempatan untuk membangun kekuatan, ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam kepada suku yang menawannya. Karena saat itu, fokusnya adalah membangun kekuatan dan menjaga keluarganya, ia tetap bisa berpikir jernih dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi kemarahan untuk membalas dendam.
Kedua, seperti yang saya ceritakan di atas. Suatu hari Jenghis hampir terbunuh dalam sebuah peperangan, namun beruntunglah ia bisa selamat. Dan di akhir peperangan, Jenghis berhasil menangkap orang yang hampir membunuhnya di medan perang. Namun ketika orang tersebut menawarkan diri untuk mengabdi dan berjanji setia kepadanya, Jenghis justru mengangkat orang tersebut sebagai salah satu jendral utamanya. Di kemudian hari Jendral ini menjadi salah satu tulang punggung dalam tentara Jenghis Khan. Sekali lagi, Jenghis tidak membiarkan emosinya memegang kendali, melainkan dengan pikiran jernih ia bisa melihat potensi seseorang dan mendayagunakan dengan baik.
Ketiga, ketika Jenghis Khan melakukan penyerangan besar-besaran ke wilayah kerajaan Khwarezm, Jenghis meminta semua negara jajahan mereka untuk mengirimkan tentara bantuan. Tetapi ada 1 negara jajahan yang menolak permintaan itu. Diceritakan pada saat itu, meski Jenghis sangat terhina dan marah besar, namun ia masih bisa menahan diri dan memfokuskan diri pada penyerangan. Ia bisa menunda keinginannya untuk “menghukum” negara jajahannya yang berkhianat demi sebuah tujuan yang lebih besar.
Sebuah lembaga internasional yang mendedikasikan diri dalam penelitian dan pengembangan kecerdasan emosi yang bernama Six Seconds mengajarkan bahwa salah satu indikasi kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam menunda “pemuasan hasrat” (delay gratification). Banyak orang tidak bisa bersabar untuk melampiaskan kemarahan, melampiaskan kesedihan, melampiaskan kebahagiaan, atau menunda hasrat dan keinginan yang sudah meluap-luap. Namun Jenghis Khan mampu melakukannya dan tetap berfokus pada tujuan yang lebih besar, hal inilah yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang paling disegani dalam sejarah (terlepas dari beberapa sisi negatif kehidupannya).
Orang-orang yang sukses adalah orang yang mampu menguasai emosinya dan tidak membiarkan dirinya “ditunggangi” oleh emosinya. Sejauh mana Anda sudah menjadi tuan atas emosi Anda sendiri?
“Emosi bisa menjadi tuan atau budak, tergantung apakah Anda memiliki kemampuan sebagai tuan atau budak?”

