Kritik oh kritik…
July 23, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Wisdom Cartoon
Kritik bisa saja menjadi seperti obat, terasa pahit tapi membuatmu menjadi lebih sehat…

Mau Lebih Sukses?
July 23, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Wisdom Cartoon
Sukse bukanlah seperti hujan yang turun begitu saja dari langit… Sukses adalah hasil dari rangkaian usaha setiap hari!

Kacamatamu = Masa Depanmu
July 14, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Light Wisdom
Saya rasa Anda tentu masih ingat dengan salah satu adegan komedi yang sering dipraktekkan para pelawak. Adegan itu adalah, sang pelawak memakai kacamata hitam, kemudian dia bertanya pada temannya, “Kenapa ya kok gelap banget? Lampu pada mati ya?” Dan kemudian sang rekan memberitahu bahwa dia memakai kacamata hitam.
Meski berkali-kali kita tonton adegan ini, namun tak jarang juga kita masih tersenyum dan tertawa menyaksikannya. Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, adegan ini sering terjadi dalam kehidupan kita.
Ketika saya meluncurkan buku saya yang berjudul “Menikah Adalah Bunuh Diri”, komentar dan opini segera bermunculan. Meski sebagian besar komentar adalah rasa penasaran, namun ada juga beberapa orang yang dengan terang-terangan melabel saya sebagai orang “sesat”, orang pesimis, orang yang punya luka batin dan trauma dengan pernikahan, dan berbagai komentar negatif lainnya. Padahal saat itu bukunya belum muncul di pasaran dan saya baru saja melakukan promosi pra-launching.
Tentu saja saya menjadi heran dan bertanya dalam hati, “Lho, mereka kan belum baca bukunya, kok mereka bisa menilai saya sebagai penyesat ya?” Ketika saya bertanya pada salah satu orang yang mengirimkan komentar itu dan meminta beliau membaca dulu sebelum berkomentar, beliau membalas dengan pernyataan, “saya tidak mau membaca buku dari orang sesat!” Nah, saya semakin bingung, yang menjadikan saya sesat adalah buku yang saya tulis atau justru buku saya menjadi sesat gara-gara saya sudah sesat duluan? Lagian, apakah dia bisa mengukur saya sesat atau tidak hanya dari sebuah judul buku yang bahkan belum dia lihat isinya, dan wujudnya sama sekali?
Hmmm… Bukankah orang-orang seperti ini cukup sering kita jumpai? Orang yang memakai kacamata hitam akan seluruh dunia menjadi hitam dan gelap, meskipun padahal sebenarnya dunia di sekitarnya begitu indah dan berwarna-warni.
Karena saya sudah dilihat dengan kacamata negatif, maka apapun yang saya lakukan dan sebagus apapun isi buku saya, baginya akan tetap terlihat negatif. Tentu saja saya memilih untuk tidak sakit hati dan menjadikan ini sebagai salah satu kekayaan pengalaman hidup yang bisa membuat saya semakin bijaksana. Malahan saya terus berusaha meng-add account facebook orang yang mengkritik saya itu, namun beliau selalu menolak.
Kacamata yang Anda pakai sangat menentukan akan jadi apa dunia yang Anda hidupi. Jika Anda selalu memandang kehidupan dengan kacamata sinis, negatif, dan pesimis, maka bisa dibayangkan akan jadi seperti apa kehidupan Anda. Dan pada akhirnya, tindakan-tindakan Anda pun akan berkutat di seputar sinisme, pesimisme, dan negatif-isme (maksa ya?)
Jadi saran saya, sebelum menilai segala sesuatu, akan lebih baik jika Anda membuka kacamata Anda lebih dahulu dan melihat “warna asli” dunia ini, baru kemudian Anda melakukan penilaian. Malahan, kadangkala kita harus berani memasang kacamata optimisme, kacamata positif, dan kacamata apresiasi, agar segala sesuatu yang tampak buruk bisa tetap terlihat indah di depan mata Anda.
Mengakhiri notes kali ini, saya ingin mengutip kata-kata dari seorang filsuf yang berbunyi:
“Tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini, pikiran (baca:kacamata) kitalah yang menjadikannya ada.”
Keep Exciting!
*FYI: Penerbit sudah kehabisan stok Buku “Menikah Adalah Bunuh Diri” dan yang tersisa hanya yang ada di toko-toko buku saja. Rencananya dalam 1 bulan ke depan akan cetak ulang lagi. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli dan memberikan komentar membangun untuk buku ini!
Life is Like A Roller Coaster
July 14, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ, Featured, Hot Product

PERTAMA DI INDONESIA!
Buku Kecerdasan Emosi Untuk Anak Muda yang didesain dengan FULL COLOR, FULL GAMBAR, FULL DESAIN, PLUS TES level EQ & Usia Emosi!
DIJAMIN! Kamu belum pernah menemui buku kecerdasan emosi semenarik dan sedahsyat ini! Bukan cuma isinya yang seru, bahasanya ringan dan enak dibaca, tetapi juga penampilan buku ini yang sangat keren dan bergaya anak muda banget!
Dalam buku ini, kamu akan menemukan:
-
Contoh nyata yang membuktikan bahwa IQ hanya berperan 20% untuk KESUKSESAN masa depanmu dan 80% sisanya justru ditentukan oleh tingkat EQ kamu!
-
Bagaimana cara praktis dan asyik untuk meningkatkan level EQ kamu dengan MENAKJUBKAN!
-
Darimana munculnya emosi dan bagaimana MENGENDALIKANnya untuk kepentinganmu!
-
Ternyata usia tidak menentukan kecerdasan emosimu! Ada orang yang sudah tua tapi emosinya masih TK! Ukurlah usia emosimu melalui kuisioner seru yang ada dalam buku ini!
-
Tahukah kamu bahwa ada yang namanya Termometer Emosi! Gimana cara kerjanya? Semua jelas tuntas dalam buku ini!
-
4 Kondisi paling bahaya secara emosional! Temukan keempatnya sekaligus dalam buku ini
-
Bagaimana menjadi anak muda yang tidak dikendalikan oleh orang lain dan keadaan, BEBAS menentukan arah hidupmu!
-
Cara membaca emosi orang lain yang akan BERGUNA BANGET untuk membuatmu jadi orang hebat!
-
Dan masih banyak cerita seru, tips DAHSYAT, dan topic-topik asyik lainnya!
Apa yang mereka katakan tentang buku ini:
“Buku ini ditulis oleh rekan Iwan dengan passion (semangat) yang luar biasa. Tidak banyak buku mengenai Kecerdasan Emosional ditulis untuk para rekan muda.Apalagi dengan bahasa yang pas dan dengan konteks ke-Indonesia-an. Tentu saja, saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca, dihayati dan di-HIDUP-i.”
Anthony Dio Martin – Direktur HR Excellency & International Certified EQ Trainer from Six Seconds
“Dalam usia muda setiap manusia sesuai fitrahnya pasti mengalami masa-masa ketidakstabilan emosi. Penting rasanya setiap generasi muda menyadari kondisi tersebut, dan untuk bisa “pasang kuda-kuda” agar tidak tergelincir pada hal-hal yang merugikan tidak ada salahnya dengan membaca buku ini. Karena dengan membaca buku ini paling tidak kita sudah diingatkan lebih dulu agar kita bisa melewati masa-masa muda dengan “selamat” sampai kita memasuki jenjang usia berikutnya.”
Hedy Yunus – Penyanyi
“Kamu akan mencari sebuah kamus, kalau kamu ingin menemukan arti sebuah kata, tapi kamu akan mencari buku ini setiap kamu ingin tahu arti dari kekuatan emosi yang ada dalam diri kamu, buku yang luar biasa. Setiap anak muda Indonesia harus membacanya.Tajam, praktis dan mencerahkan.”
Donny Dhirgantoro – Penulis Novel Bestseller “5 cm”
“Ternyata kecerdasan emosi dapat menentukan nasib dan masa depan kita, banyak tips dan trik jitunya disini… Dan bagaimana mengolah emosi… Mantab!”
Afif ”Numbo” Ariyanto – Comic Artist Caravan Studio; Salah satu comic artist utama Komik ALIA
Learning EQ From Autobots
July 10, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ, Featured
Meski pemutaran film Transformers – Revenge of The Fallen sudah berlangsung lebih dari seminggu, ternyata gedung bioskop masih dipenuhi dengan mereka-mereka yang belum punya kesempatan menyaksikan film fenomenal ini. Termasuk saya dan istri berada dalam kerumunan orang-orang itu. Bahkan kami sampai rela menunggu giliran nonton yang masih 4 jam karena kehabisan tiket di jadwal tayang terdekat.
Secara overall, it’s a great movie. Penuh adegan baku hantam para robot canggih dan didukung oleh teknologi pembuatan animasi yang sangat spektakuler menjadikan film ini benar-benar seperti “dream comes true” bagi para pecinta Transformers.
Namun, dasar trainer, rasanya kalau tidak mendapatkan insight saat nonton akan merasa “kekosongan” hati. Kali ini pun di saat saya fokus memelototi adegan demi adegan, naluri saya sebagai EQ trainer menangkap sebuah pesan yang sederhana namun sebenarnya sangat dalam.
Michael Bay berusaha menggambarkan robot-robot dalam film Transformer sebagai sebuah makhluk yang memiliki hati dan emosi. Bahkan ditunjukkan bahwa robot inipun bisa “menangis” ketika harus berpisah dengan manusia yang menjadi sahabatnya. Tapi itu bukanlah hal utama yang ingin saya tulis disini, justru saya tergelitik ketika melihat sebuah robot bernama Optimus Prime yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan seorang manusia.

Bahkan, sekelompok robot protagonis yang disebut Autobots bersikeras untuk tinggal di bumi karena mereka merasa bahwa bumi harus diselamatkan dan dilindungi. Sebuah kalimat meluncur dari salah satu robot Autobots “Jangan sampai manusia punah dan tidak memiliki generasi penerus seperti yang terjadi pada bangsa kami.”
Padahal, jika ditilik, para Autobots sama sekali tidak punya kepentingan apapun dengan manusia dan bumi. Jika bumi hancur sekalipun, robot-robot itu masih bisa pindah ke planet lain dan hidup tanpa gangguan apapun. Mengapa mereka sampai repot-repot menyelamatkan bumi, sementara sebagian penduduk bumi justru malah menolak dan berusaha mengusir mereka pergi.
Disinilah naluri EQ saya menyala. Salah satu konsep EQ mengajarkan satu hal yang namanya Noble Goal. Orang yang memiliki kecerdasan emosi pada tingkat matang, hidupnya akan digerakkan oleh tujuan-tujuan mulia, yaitu tujuan untuk mengembangkan hidup orang lain dan meninggalkan warisan yang abadi dalam hidup banyak orang.
Film Transformer sepertinya mencoba menyindir kita, bahwa robot yang benda mati pun masih mengerti apa artinya hidup bagi orang lain. Sementara manusia yang seringkali dianggap sebagai makhluk Tuhan paling mulia dan tinggi derajatnya malah seringkali kehilangan hatinya dan bertindak bak “benda mati” tanpa perasaan.
Sudahkah hidup kita membawa kebaikan bagi banyak orang? Sudahkah hidup kita meninggalkan warisan abadi dalam hati banyak orang? Sudahkah kita hidup dengan hati yang mulia untuk orang lain? Jika belum, mungkin kita harus berkaca dulu pada para autobots…

