<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>www.josuawahyudi.com &#187; EQ</title>
	<atom:link href="http://www.josuawahyudi.com/category/eq/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.josuawahyudi.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Mon, 09 Nov 2009 04:23:20 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.5</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Learning EQ from Pizza Resto</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/10/02/learning-eq-from-pizza-resto/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/10/02/learning-eq-from-pizza-resto/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 02 Oct 2009 07:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[pizza]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=272</guid>
		<description><![CDATA[Saya dan istri terbilang cukup sering makan pizza. Dan kami memiliki salah satu resto pizza langganan yang menjadi sasaran kami setiap kami &#8220;ngidam&#8221;. Resto tersebut populer sekali hingga menjadi salah satu ikon resto pizza di indonesia dan dunia. Saking seringnya kami makan pizza, sampai-sampai kami sudah pernah mengunjungi beberapa outlet di berbagai mal dan tempat.
Yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya dan istri terbilang cukup sering makan pizza. Dan kami memiliki salah satu resto pizza langganan yang menjadi sasaran kami setiap kami &#8220;ngidam&#8221;. Resto tersebut populer sekali hingga menjadi salah satu ikon resto pizza di indonesia dan dunia. Saking seringnya kami makan pizza, sampai-sampai kami sudah pernah mengunjungi beberapa outlet di berbagai mal dan tempat.</p>
<p>Yang menjadi perhatian saya adalah, selama setahun terakhir ini, resto pizza populer ini menerapkan sebuah SOP (Standard Operational Prochedure) untuk service excellent mereka. Salah satu SOP mereka adalah, setiap kali customer memesan, mereka harus mengatakan kalimat semacam &#8220;pilihan Anda tepat sekali&#8221;. Dan setelah memesan, mereka diwajibkan untuk berkata &#8220;mohon sabar menunggu 15 menit, terima kasih untuk pesanan Anda.&#8221; Tentu saja SOP ini adalah sebuah standar pelayanan yang sangat baik sekali bukan?</p>
<p>Tetapi sayang sekali, setelah saya dan istri mengunjungi beberapa outlet mereka di berbagai mal, ternyata kami sangat kesulitan menemukan seorang waiter/waitress yang menerapkan SOP itu dengan sepenuh hati. Yang keseringan kami alami adalah para pelayan yang mengucapkan kalimat SOP tanpa senyum, dengan wajah jutek, kecepatan bicara yang seperti pesawat ultrasonik, dan tidak menatap wajah kami sama sekali. Bahkan, cukup sering kami berhadapan dengan para pelayan yang langsung memasang tampang garang jika kami komplain mengenai kualitas makanan yang jauh dari standar.</p>
<p>Malahan, pernah suatu hari ketika kami mengantri, ada seorang waitress yang bertanya &#8220;mau di smoking room atau non smoking?&#8221; kami pun menjawab, &#8220;di non smoking&#8230; Boleh nggak minta yang meja dengan kursi sofa?&#8221; Kemudian dia menjawab, &#8220;yang ada sofanya masih penuh pak&#8230;&#8221; sementara mata kami jelas-jelas melihat ada sebuah meja berkursi sofa yang kosong dan sudah bersih. Naluri iseng kami muncul dan berkata, &#8220;Lha itu? ada yang kosong tuh?&#8221; Dengan wajah agak kewalahan ia menjawab, &#8220;Oh itu belum dibersihkan pak&#8230;&#8221; Karena kami ngotot untuk minta meja dengan kursi sofa, maka kami dipersilahkan untuk menunggu sejenak.</p>
<p>Betapa kagetnya kami ketika tiba-tiba pelayan tadi menghampiri kasir dan kemudian mulai ngomel, &#8220;rese&#8217; banget sih itu orang&#8230; masa cuman 2 orang aja minta yang ada sofanya&#8230;bla..bla&#8230;bla&#8230;&#8221; sementara dia tidak sadar bahwa kami sedang duduk persis di belakang dia dan mendengar semua &#8220;curhat&#8221;nya. ketika dia membalikkan badan barulah dia sadar bahwa kami ada di belakangnya sambil memandang dia dengan wajah datar. Kontan saja dia jadi &#8220;salting&#8221; dan buru-buru ngacir menyelamatkan muka (tanpa minta maaf lagi!)</p>
<p>Well, itu salah satu kasus dari sekian kasus yang kami alami di berbagai outlet pizza resto ini. Tapi poin dari artikel ini bukan untuk &#8220;curhat&#8221; kekecewaan saya terhadap kualitas service mereka. Inti penting yang ingin saya sampaikan adalah: sebagus-bagusnya sebuah SOP, secanggih-canggihnya sebuah sistem, dan sehebat-hebatnya sebuah prosedur, jika orang yang melakukannya tidak sepenuh hati, maka tidak akan ada dampaknya. Apalagi jika Anda berkecimpung dalam industri hospitality (resto, hotel, rumah sakit, travel, dsb). Namanya saja sudah &#8220;hospitality&#8221;, artinya elemen penting yang dijual salah satunya adalah service excellent!</p>
<p>Tapi betapa banyaknya para pekerja yang berkecimpung dalam dunia hospitality yang tidak menjiwai &#8220;service of excellent&#8221; dalam pekerjaan mereka. (meski sudah ada SOP hebat untuk membantu mereka mewujudkan sebuah pelayanan yang luar biasa)</p>
<h3>Faktor Perasaan</h3>
<p>Masih ngomongin pizza resto yang tadi. Ketika kami berkunjung dalam salah satu outlet, diantara sekian banyak pelayan yang cuman sekedar menjalankan SOP, kadangkala kami berjumpa dengan &#8220;segelintir&#8221; waiter/waitress yang mengucapkan kalimat-kalimat SOP itu dengan sepenuh hati. Tatapan mata yang hangat, senyum yang tidak dipaksakan dan tulus, serta bantuan-bantuan tidak diminta yang ditawarkan kadangkala membuat kami terhibur. Tidak usah kita, bahkan anak kecil pun seringkali bisa membedakan mana senyuman &#8220;formalitas&#8221; yang dipaksakan dan mana senyuman yang benar-benar tulus.</p>
<p>Bagaimanapun jika seseorang disentuh perasaannya, maka ia akan menjadi jauh lebih bersikap positif kepada Anda. Itu sebabnya kadangkala ada customer yang sangat loyal bukan karena kualitas produknya saja, tetapi juga karena mereka merasakan pelayanan yang baik yang membuat perasaan mereka dihargai dan diakomodasi. Bukankah sebenarnya tujuan SOP resto pizza itu adalah untuk hal ini? Lalu apa gunanya jika SOP itu dijalankan tanpa memperhatikan unsur &#8220;perasaan&#8221; di dalamnya? Bukankah sama saja dengan jika SOP itu tidak dijalankan?</p>
<h3>Conclusion</h3>
<p>Saya rasa, dalam bisnis apapun dan dalam komunikasi dengan siapapun, menyentuh hati dan perasaan adalah salah satu &#8220;senjata&#8221; yang efektif. Sebuah produk yang laku keras pasti karena mereka menawarkan sesuatu yang sebenarnya secara emosional dibutuhkan oleh banyak orang (selain karena kualitas produknya juga).</p>
<p>Misalnya, mobil-mobil mewah dijual bukan hanya karena kualitas mobil dan mesinnya, tetapi juga karena untuk kebutuhan perasaan &#8220;bergengsi&#8221;. Dokter-dokter yang laku bukan hanya karena pandai mengobati, tetapi juga karena pandai &#8221;menenangkan&#8221; kekhawatiran pasien. Agen-agen asuransi yang tembus target terus bukan hanya karena produk asuransi mereka bagus, tetapi mereka juga pandai menjawab &#8220;kegundahan&#8221; nasabah terhadap keamanan masa depan mereka dan keluarga mereka. Blackberry juga laku bukan karena kecanggihan featurenya, tapi lebih karena alasan-alasan emosional (bergengsi).</p>
<p>Di akhir tulisan ini, saya akan mengutip perkataan John Maxwell , <em>&#8220;sebelum kamu meminta tangan seseorang, sentuhlah dulu hatinya&#8221;. </em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/10/02/learning-eq-from-pizza-resto/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Life is Like A Roller Coaster</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/14/life-is-like-a-roller-coaster/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/14/life-is-like-a-roller-coaster/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 14 Jul 2009 05:03:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[Hot Product]]></category>
		<category><![CDATA[anak muda]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[youth]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=228</guid>
		<description><![CDATA[
PERTAMA DI INDONESIA!
Buku Kecerdasan Emosi Untuk Anak Muda yang didesain dengan FULL COLOR, FULL GAMBAR, FULL DESAIN, PLUS TES level EQ &#38; Usia Emosi! 
  
DIJAMIN! Kamu belum pernah menemui buku kecerdasan emosi semenarik dan sedahsyat ini! Bukan cuma isinya yang seru, bahasanya ringan dan enak dibaca, tetapi juga penampilan buku ini yang sangat keren dan bergaya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="size-full wp-image-213 aligncenter" title="eqmyouth-sm" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/04/eqmyouth-sm.jpg" alt="eqmyouth-sm" width="259" height="340" /></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>PERTAMA DI INDONESIA!</strong><br />
Buku Kecerdasan Emosi Untuk Anak Muda yang didesain dengan FULL COLOR, FULL GAMBAR, FULL DESAIN, PLUS TES level EQ &amp; Usia Emosi! <br />
  <br />
<strong>DIJAMIN!</strong> Kamu belum pernah menemui buku kecerdasan emosi semenarik dan sedahsyat ini! Bukan cuma isinya yang seru, bahasanya ringan dan enak dibaca, tetapi juga penampilan buku ini yang sangat keren dan bergaya anak muda banget! </p>
<p style="text-align: justify;">Dalam buku ini, kamu akan menemukan:</p>
<ul>
<li>
<div style="text-align: justify;">Contoh nyata yang membuktikan bahwa IQ hanya berperan 20% untuk KESUKSESAN masa depanmu dan 80% sisanya justru ditentukan oleh tingkat EQ kamu!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Bagaimana cara praktis dan asyik untuk meningkatkan level EQ kamu dengan MENAKJUBKAN!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Darimana munculnya emosi dan bagaimana MENGENDALIKANnya untuk kepentinganmu!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Ternyata usia tidak menentukan kecerdasan emosimu! Ada orang yang sudah tua tapi emosinya masih TK! Ukurlah usia emosimu melalui kuisioner seru yang ada dalam buku ini!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Tahukah kamu bahwa ada yang namanya Termometer Emosi! Gimana cara kerjanya? Semua jelas tuntas dalam buku ini!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">4 Kondisi paling bahaya secara emosional! Temukan keempatnya sekaligus dalam buku ini</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Bagaimana menjadi anak muda yang tidak dikendalikan oleh orang lain dan keadaan, BEBAS menentukan arah hidupmu!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Cara membaca emosi orang lain yang akan BERGUNA BANGET untuk membuatmu jadi orang hebat!</div>
</li>
<li>
<div style="text-align: justify;">Dan masih banyak cerita seru, tips DAHSYAT, dan topic-topik asyik lainnya!  </div>
</li>
</ul>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;">Apa yang mereka katakan tentang buku ini:<br />
  <br />
<em>“Buku ini ditulis oleh rekan Iwan dengan passion (semangat) yang luar biasa. Tidak banyak buku mengenai Kecerdasan Emosional ditulis untuk para rekan muda.Apalagi dengan bahasa yang pas dan dengan konteks ke-Indonesia-an. Tentu saja, saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca, dihayati dan di-HIDUP-i.”</em><br />
<strong>Anthony Dio Martin</strong> – Direktur HR Excellency &amp; International Certified EQ Trainer from Six Seconds<br />
  </p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Dalam usia muda setiap manusia sesuai fitrahnya pasti mengalami masa-masa ketidakstabilan emosi. Penting rasanya setiap generasi muda menyadari kondisi tersebut, dan untuk bisa &#8220;pasang kuda-kuda&#8221; agar tidak tergelincir pada hal-hal yang merugikan tidak ada salahnya dengan membaca buku ini. Karena dengan membaca buku ini paling tidak kita sudah diingatkan lebih dulu agar kita bisa melewati masa-masa muda dengan &#8220;selamat&#8221; sampai kita memasuki jenjang usia berikutnya.&#8221;</em><br />
<strong>Hedy Yunus</strong> – Penyanyi </p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Kamu akan mencari sebuah kamus, kalau kamu ingin menemukan arti sebuah kata, tapi kamu akan mencari buku ini setiap kamu ingin tahu arti dari kekuatan emosi yang ada dalam diri kamu, buku yang luar biasa. Setiap anak muda Indonesia harus membacanya.Tajam, praktis dan mencerahkan.”</em><br />
<strong>Donny Dhirgantoro</strong> – Penulis Novel Bestseller “5 cm” </p></blockquote>
<blockquote>
<p style="text-align: justify;"><em>&#8220;Ternyata kecerdasan emosi dapat menentukan nasib dan masa depan kita, banyak tips dan trik jitunya disini&#8230; Dan bagaimana mengolah  emosi&#8230; Mantab!&#8221;</em><br />
<strong>Afif ”Numbo” Ariyanto</strong> &#8211; Comic Artist Caravan Studio; Salah satu comic artist utama Komik ALIA</p></blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/14/life-is-like-a-roller-coaster/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Learning EQ From Autobots</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/10/learning-eq-from-autobots/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/10/learning-eq-from-autobots/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Jul 2009 09:31:05 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>
		<category><![CDATA[transformers]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=204</guid>
		<description><![CDATA[Meski pemutaran film Transformers &#8211; Revenge of The Fallen sudah berlangsung lebih dari seminggu, ternyata gedung bioskop masih dipenuhi dengan mereka-mereka yang belum punya kesempatan menyaksikan film fenomenal ini. Termasuk saya dan istri berada dalam kerumunan orang-orang itu. Bahkan kami sampai rela menunggu giliran nonton yang masih 4 jam karena kehabisan tiket di jadwal tayang terdekat.
Secara [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><img class="alignleft size-full wp-image-207" title="transfr2" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/07/transfr2.jpg" alt="transfr2" width="170" height="239" />Meski pemutaran film Transformers &#8211; Revenge of The Fallen sudah berlangsung lebih dari seminggu, ternyata gedung bioskop masih dipenuhi dengan mereka-mereka yang belum punya kesempatan menyaksikan film fenomenal ini. Termasuk saya dan istri berada dalam kerumunan orang-orang itu. Bahkan kami sampai rela menunggu giliran nonton yang masih 4 jam karena kehabisan tiket di jadwal tayang terdekat.</p>
<p style="text-align: justify;">Secara overall, it&#8217;s a great movie. Penuh adegan baku hantam para robot canggih dan didukung oleh teknologi pembuatan animasi yang sangat spektakuler menjadikan film ini benar-benar seperti &#8220;dream comes true&#8221; bagi para pecinta Transformers.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun, dasar trainer, rasanya kalau tidak mendapatkan insight saat nonton akan merasa &#8220;kekosongan&#8221; hati. Kali ini pun di saat saya fokus memelototi adegan demi adegan, naluri saya sebagai EQ trainer menangkap sebuah pesan yang sederhana namun sebenarnya sangat dalam.</p>
<p style="text-align: justify;">Michael Bay berusaha menggambarkan robot-robot dalam film Transformer sebagai sebuah makhluk yang memiliki hati dan emosi. Bahkan ditunjukkan bahwa robot inipun bisa &#8220;menangis&#8221; ketika harus berpisah dengan manusia yang menjadi sahabatnya. Tapi itu bukanlah hal utama yang ingin saya tulis disini, justru saya tergelitik ketika melihat sebuah robot bernama Optimus Prime yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan seorang manusia.</p>
<p><img class="alignnone size-full wp-image-208" title="transfr1" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/07/transfr1.jpg" alt="transfr1" width="276" height="170" /></p>
<p style="text-align: justify;">Bahkan, sekelompok robot protagonis yang disebut Autobots bersikeras untuk tinggal di bumi karena mereka merasa bahwa bumi harus diselamatkan dan dilindungi. Sebuah kalimat meluncur dari salah satu robot Autobots &#8220;Jangan sampai manusia punah dan tidak memiliki generasi penerus seperti yang terjadi pada bangsa kami.&#8221;</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal, jika ditilik, para Autobots sama sekali tidak punya kepentingan apapun dengan manusia dan bumi. Jika bumi hancur sekalipun, robot-robot itu masih bisa pindah ke planet lain dan hidup tanpa gangguan apapun. Mengapa mereka sampai repot-repot menyelamatkan bumi, sementara sebagian penduduk bumi justru malah menolak dan berusaha mengusir mereka pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Disinilah naluri EQ saya menyala. Salah satu konsep EQ mengajarkan satu hal yang namanya Noble Goal. Orang yang memiliki kecerdasan emosi pada tingkat matang, hidupnya akan digerakkan oleh tujuan-tujuan mulia, yaitu tujuan untuk mengembangkan hidup orang lain dan meninggalkan warisan yang abadi dalam hidup banyak orang.</p>
<p style="text-align: justify;">Film Transformer sepertinya mencoba menyindir kita, bahwa robot yang benda mati pun masih mengerti apa artinya hidup bagi orang lain. Sementara manusia yang seringkali dianggap sebagai makhluk Tuhan paling mulia dan tinggi derajatnya malah seringkali kehilangan hatinya dan bertindak bak &#8220;benda mati&#8221; tanpa perasaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Sudahkah hidup kita membawa kebaikan bagi banyak orang? Sudahkah hidup kita meninggalkan warisan abadi dalam hati banyak orang? Sudahkah kita hidup dengan hati yang mulia untuk orang lain? Jika belum, mungkin kita harus berkaca dulu pada para autobots&#8230;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/07/10/learning-eq-from-autobots/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Boros = EQ Jongkok?</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/boros-eq-jongkok/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/boros-eq-jongkok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 09:05:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[boros]]></category>
		<category><![CDATA[kaya]]></category>
		<category><![CDATA[uang]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=186</guid>
		<description><![CDATA[Saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah yang sangat menarik. Seorang kenalan suatu hari bercerita mengenai kondisi keuangannya yang selalu minus dan membuatnya terjerat hutang. Ketika saya bertanya-tanya mengenai gaji dan gaya hidupnya, ada sebuah kenyataan yang cukup menarik. Di atas kertas, gajinya sangat cukup untuk menghidupi dirinya yang masih single, tetapi dia mudah sekali [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;">Saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah yang sangat menarik. Seorang kenalan suatu hari bercerita mengenai kondisi keuangannya yang selalu minus dan membuatnya terjerat hutang. Ketika saya bertanya-tanya mengenai gaji dan gaya hidupnya, ada sebuah kenyataan yang cukup menarik. Di atas kertas, gajinya sangat cukup untuk menghidupi dirinya yang masih single, tetapi dia mudah sekali tergoda untuk membeli berbagai barang mulai dari handphone, kamera, aksesoris, pakaian, sepatu, dan sulit menahan diri untuk makan di tempat-tempat mahal.</p>
<p><img class="size-full wp-image-189 alignnone" title="42-17170071" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/06/42-17170071.jpg" alt="42-17170071" width="400" height="229" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ketika saya bertanya apakah selama ini ia tidak tahu bahwa gaya hidupnyalah yang membuatnya &#8220;kebobolan&#8221; jawabannya sungguh mengherankan. Ia mengaku bahwa ia sadar gaya hidupnya selama ini yang membuatnya terjerat hutang, dan setiap kali akan membeli sesuatu, ia juga sadar bahwa jika ia nekad membeli barang itu, keuangannya akan menjadi minus. Namun selalu saja ia tidak bisa menahan godaan dan menyerah dengan keinginan hatinya yang menggebu-gebu. Bahkan seringkali ia menyesal sudah membeli barang-barang yang menurutnya sebenarnya tidak perlu.</p>
<h3 style="text-align: justify;">Delay Gratification</h3>
<p><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Dalam konsep EQ, ada sebuah istilah yang disebut dengan &#8220;delay gratification&#8221;. Delay gratification adalah kemampuan untuk menunda atau menahan diri dalam memuaskan hasrat atau keinginan diri-sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bicara mengenai delay gratification, ada sebuah penelitian populer yang pernah dilakukan terhadap sekelompok anak-anak. Mereka secara bergiliran, satu-persatu dimasukkan ke dalam ruangan yang berisi banyak permen. Kemudian mereka disuruh duduk menghadap sebuah meja, dan di atas meja itu diletakkan sebuah permen yang paling disukai semua anak-anak. Anak itu dijelaskan, jika ia sanggup menahan untuk tidak memakan permen itu selama 15 menit, maka ia akan mendapatkan permen yang sama dalam jumlah yang berlipat-lipat lebih banyak. Ternyata hasilnya sungguh mengherankan, lebih dari 50% anak-anak tidak mampu menahan godaan untuk memakan permen itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Dan penelitian lebih lanjut dilakukan selama 14 tahun ke depan. Ternyata anak-anak yang mampu menahan diri tidak makan permen itu, mereka berhasil bersekolah di sekolah-sekolah yang lebih bagus dan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik, sementara anak-anak yang gagal menahan diri dan memakan permen sebelum waktunya, umumnya menjadi orang-orang yang suka membuat onar dan beberapa dari mereka memiliki masalah dengan narkoba.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Penelitian ini adalah sebuah tes untuk memperlihatkan kemampuan dalam melakukan Delay Gratification. Pada usia anak-anak, hasil tersebut sebenarnya masih bisa dimaklumi karena otak mereka belum berkembang sepenuhnya, namun, para ahli mengatakan bahwa seharusnya orang dewasa memiliki kemampuan Delay Gratification yang jauh lebih tinggi. Tapi kenyataannya? Banyak sekali kita jumpai orang-orang yang tidak mampu menahani diri untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan padahal mereka tahu bahwa ada kebutuhan lain yang sebenarnya lebih perlu untuk dibeli.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 0pt; line-height: 150%; text-align: justify;"> </p>
<h3 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bagaimana mengatasi situasi ini?</span></h3>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Bisakah kita meningkatkan kemampuan kita dalam melakukan Delay Gratification? Dalam kesempatan ini paling tidak ada 7 tips yang bisa Anda lakukan:</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">1. Hindari permen itu!</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Jika Anda tidak pernah tahan dengan godaan membeli barang setiap kali Anda bepergian, maka yang perlu Anda lakukan adalah mengurangi frekuensi Anda pergi agar Anda tidak bertemu dengan &#8220;permen-permen&#8221; yang menggoda Anda</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">2. Batasi Kemampuan Anda</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Jangan bawa banyak uang baik dalam bentuk cash maupun kartu. Ketika kita membawa banyak uang, secara psikologis kita akan terdorong untuk lebih mudah membelanjakannya</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">3. Mintalah bantuan</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Ceritakan keinginan Anda untuk menahan diri dan berhemat pada orang-orang terdekat Anda dan minta mereka untuk membantu Anda mengingatkan dan mencegah Anda untuk melakukan pembelian-pembelian yang tidak perlu</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">4. Bayangkan keuntungannya</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Setiap kali Anda tergoda untuk mengeluarkan uang Anda untuk hal-hal yang tidak perlu, segeralah membayangkan betapa banyak uang yang bisa Anda simpan dan kenikmatan yang jauh lebih besar yang bisa Anda peroleh jika Anda berhasil menahan diri. Misalnya, jika Anda ingin membeli Handphone baru, bayangkanlah diri Anda bisa membeli Handphone yang jauh lebih canggih dan mahal jika Anda bisa menahan diri. Selalulah berkata pada diri-sendiri, “Tahan sebentar sekarang, nanti bisa mendapat yang jauh lebih baik”.</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">5. Hindari HALT</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">HALT adalah singkatan dari Hungry, Angry, Lonely, Tired. 4 kondisi tersebut adalah saat-saat dimana kita paling rentan secara emosional dan tidak punya daya tahan menghadapi godaan dan problem emosional. Jika Anda sedang berada di salah satu kondisi tersebut, Anda akan cenderung lebih mudah menjadi royal dan menghamburkan uang lebih banyak.</span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">6. Belajarlah dari hal yang sederhana</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Latihlah kemampuan Delay Gratification ini dari hal-hal simpel, misalnya belajar mengantri, melakukan puasa, belajar lebih sabar dalam berkendaraan dan menyalip, dan berbagai hal sederhana lainnya. </span></p>
<h4 class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto; mso-outline-level: 4;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">7. Bayangkan kerugiannya!</span></h4>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Selain membayangkan keuntungannya, Anda juga harus membayangkan kerugian yang Anda lakukan jika Anda menjadi boros. Bayangkanlah Anda tidak punya uang, dikejar-kejar debt collector, tidak punya uang saat sakit, tidak bisa membantu orang tua yang kesulitan, dan berbagai hal buruk yang bisa terjadi akibat gaya hidup Anda yang boros.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 150%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">Semoga saja dengan adanya 7 tips ini, Anda bisa menguasai perasaan Anda dan mampu melakukan delay gratification di saat-saat yang diperlukan.</span></p>
<blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 5pt; line-height: 150%; text-align: justify;"><em><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';">“</span></em><span style="font-size: 9pt; color: black; line-height: 150%; font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-fareast-font-family: 'Times New Roman';"><a href="http://thinkexist.com/quotation/money_will_come_when_you_are_doing_the_right/215968.html"><em><span style="color: windowtext; text-decoration: none; text-underline: none;">Money will come when you are doing the right thing.</span></em></a><em>”<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>- Mike Philips</em></span></p>
</blockquote>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt; line-height: 120%; text-align: justify; mso-margin-top-alt: auto; mso-margin-bottom-alt: auto;"> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/boros-eq-jongkok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Learning EQ from The Vulcans</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/learning-eq-from-the-vulcans/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/learning-eq-from-the-vulcans/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Jun 2009 08:40:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[Spok]]></category>
		<category><![CDATA[Star Trek]]></category>
		<category><![CDATA[Vulcan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=182</guid>
		<description><![CDATA[Setelah ditunggu-tunggu para fans setianya, akhirnya film terbaru Star Trek muncul. Saya yang ikut nonton di pemutaran perdana film ini di Jakarta harus berdesak-desakan dengan ratusan orang untuk menyaksikan film heboh ini. Meski saya bukanlah termasuk penggemar Star Trek dan tidak begitu tahu tokoh-tokohnya, tetapi kehebohan bisik-bisik sebelum film ini diluncurkan membuat saya penasaran ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Setelah ditunggu-tunggu para fans setianya, akhirnya film terbaru Star Trek muncul. Saya yang ikut nonton di pemutaran perdana film ini di Jakarta harus berdesak-desakan dengan ratusan orang untuk menyaksikan film heboh ini. Meski saya bukanlah termasuk penggemar Star Trek dan tidak begitu tahu tokoh-tokohnya, tetapi kehebohan bisik-bisik sebelum film ini diluncurkan membuat saya penasaran ingin tahu seperti apa sebenarnya film ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Tentu saja dengan kecanggihan teknologi saat ini dan perkembangan pembuatan film yang sangat maju pesat membuat film ini cukup layak untuk dikategorikan sebagai salah satu film yang menghibur. Namun, namanya trainer, apalagi seorang trainer EQ seperti saya ini, biasanya nonton film dianggap seperti “kulakan”. Artinya, saat kami melihat sebuah film, kami akan memasang radar inspirasi dan mencoba menangkap detail-detail yang memungkinkan untuk kami jadikan referensi materi training.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;"><img class="alignleft size-full wp-image-183" title="startrek" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/06/startrek.bmp" alt="startrek" width="224" height="331" />Dalam film Star Trek kali ini, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menangkap sebuah insight yang sederhana tetapi sangat mendasar. Saya dengan segera menjadi tertarik dengan tokoh Mr. Spok dan budaya ras mereka yang disebut sebagai bangsa Vulcan. Semua orang Vulcan dibesarkan dengan pengembangan logika yang sangat kuat. Mereka menganut prinsip bahwa mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan perasaan atau emosi adalah sebuah hal yang terlarang. Para Vulcans menganggap logika dan analisis berpikir sebagai satu-satunya metode yang paling baik. Itu sebabnya sejak kecil semua bangsa Vulcan, termasuk Mr. Spok dilatih dengan sangat luar biasa untuk mengembangkan otak logikanya dan terus menekan perasaan mereka.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Namun di tengah kehidupan, sehebat apapun Mr. Spok menekan perasaannya, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Malahan, semakin ditekan akan semakin menggumpal dan sewaktu-waktu bisa meledak. Sebenarnya jika kita memahami prinsip EQ, kita akan tahu bahwa menekan dan memendam perasaan adalah sebuah tindakan berbahaya yang tidak bijaksana, justru kita harus menerima adanya emosi itu, dan mengekspresikannya dengan cara yang tepat pada saat yang tepat. Bahkan prinsip EQ juga menganjurkan kita untuk menggunakan baik perasaan maupun logika secara proporsional dalam mengambil keputusan dan bertindak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Jadi, pelajaran EQ yang bisa kita peroleh dari para bangsa Vulcan dalam film Star Trek adalah, jangan ingkari emosi yang muncul dalam diri Anda, jangan berusaha membuang dan menekannya, melainkan terimalah kehadiran emosi itu baru kemudian kelola emosi itu untuk diekspresikan dengan cerdas. Keputusan yang sudah dipikirkan dan “dibumbui” dengan kadar emosi yang tepat justru bisa menghasilkan efektifitas yang berlipat! </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: small; font-family: Calibri;">Sama seperti kerja sama antara Captain Kirk dan Mr. Spok yang akhirnya berhasil melakukan hal-hal luar biasa! Begitulah jika pikiran dan perasaan bisa berjalan bersama.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/06/24/learning-eq-from-the-vulcans/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Learning EQ From &#8220;Pet Society&#8221;!</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/05/06/learning-eq-from-pet-society/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/05/06/learning-eq-from-pet-society/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 06 May 2009 04:53:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Light Wisdom]]></category>
		<category><![CDATA[emosi]]></category>
		<category><![CDATA[kecerdasan]]></category>
		<category><![CDATA[pet]]></category>
		<category><![CDATA[society]]></category>
		<category><![CDATA[sosial]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[
Pernahkah Anda mendengar mengenai Pet Society? Mungkin bagi Anda para profesional, kata tersebut terdengar asing. Tetapi bagi para mahasiswa, anak muda, dan penggila game yang punya account di Facebook, Pet Society adalah sebuah minigame yang wajib dicicipi.
Sebenarnya game Pet Society ini sangat sederhana. Anda diberikan seekor binatang peliharaan dan Anda bisa memberinya makan, mengajaknya bermain, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><img class="size-full wp-image-113 aligncenter" title="pet2" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/05/pet2.jpg" alt="pet2" width="638" height="619" /></p>
<p style="text-align: left;">Pernahkah Anda mendengar mengenai Pet Society? Mungkin bagi Anda para profesional, kata tersebut terdengar asing. Tetapi bagi para mahasiswa, anak muda, dan penggila game yang punya account di Facebook, Pet Society adalah sebuah minigame yang wajib dicicipi.</p>
<p>Sebenarnya game Pet Society ini sangat sederhana. Anda diberikan seekor binatang peliharaan dan Anda bisa memberinya makan, mengajaknya bermain, memberi makan, memandikan, dan bahkan Anda bisa mendandani penampilan dan rumah binatang Anda. Yang membuat game ini adiktif adalah karena pihak game developer terus mengeluarkan berbagai item baru untuk dibeli, mulai dari baju, aksesoris, hingga berbagai perabotan rumah yang aneh-aneh dan menarik.</p>
<p>Yang membuat game ini menarik adalah Anda bisa mencari uang dan meningkatkan level binatang Anda. Uang yang Anda hasilkan bisa Anda pakai untuk membeli barang-barang baru. Pertanyaannya, bagaimanakah Anda bisa menghasilkan uang dan meningkatkan level binatang Anda? Ada sebuah cara unik, yaitu Anda harus mengunjungi rumah binatang peliharaan dari teman-teman Anda dan berinteraksi disana. Semakin banyak Anda melakukan kunjungan, semakin banyak uang yang Anda hasilkan. Semakin sering Anda berinteraksi, semakin cepat binatang Anda naik level.</p>
<p><img class="alignright size-full wp-image-114" title="pet3" src="http://www.josuawahyudi.com/wp-content/uploads/2009/05/pet3.jpg" alt="pet3" width="142" height="143" />Kemudian, ada cara lain yang lebih unik untuk meningkatkan level binatang Anda. Yaitu, kalau Anda semakin banyak memberikan barang Anda kepada binatang milik orang lain, maka semakin cepat level binatang Anda naik. Dan hebatnya lagi, semakin mahal barang yang Anda hadiahkan, maka poin yang Anda terima semakin besar.</p>
<p>Mengingat game ini, saya jadi teringat dengan sebuah prinsip Kecerdasan Emosi, yaitu Anda harus menyentuh hati seseorang sebelum meminta uluran tangannya. Saya merasa game Pet Society mengajarkan kita prinsip memberi sebelum meminta. Uang dan level seringkali didapatkan ketika kita mau memberikan waktu untuk berkunjung dan berintraksi dengan pemain lain. Bahkan, ketika Anda berani berkorban dengan memberikan barang Anda yang mahal, Anda akan memperoleh poin level yang tinggi.</p>
<p>Kita seringkali meminta orang lain memenuhi keinginan dan kebutuhan kita, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa kita tidak pernah &#8220;mengisi&#8221; hidup orang lain dengan hal-hal positif lebih dahulu. Anda tidak pernah &#8220;menabung&#8221; hal positif kepada orang lain, tetapi Anda mengharapkan untuk &#8220;menarik&#8221; setoran dari hidup mereka? Bukankah ini hal yang tidak masuk akal? Ibarat ke bank, jika Anda tidak pernah menyetor tabungan, Anda tidak akan mungkin bisa menarik sesuatu dari sana bukan? Begitu pula dengan hubungan kita terhadap orang lain, jika Anda tidak pernah &#8220;menabung&#8221; terlebih dahulu, bagaimana mungkin Anda mengharapkan untuk &#8220;menarik&#8221; sesuatu?</p>
<p>Pet Society memang hanyalah mini game sederhana, tetapi mungkin Anda perlu sesekali mencobanya untuk mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan sosial selalu berlaku sebuah hukum: &#8220;Anda akan menabur apa yang Anda tuai&#8221;</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/05/06/learning-eq-from-pet-society/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PEMBOROSAN EMOSI</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/pemborosan-emosi/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/pemborosan-emosi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 09:51:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[
“Manage your emotions and you will manage the quality of your life!”
Seorang karyawan pernah mengeluh demikian, “Kenapa ya, meskipun saya sudah tidur cukup, setiap kali bangun pagi saya selalu merasa masih lelah dan sepertinya butuh waktu lebih lama lagi untuk beristirahat. Padahal, saya sudah tidur 8-9 jam setiap hari.” Pernahkah juga Anda merasa tidak melakukan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/images/feature2.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: justify;">“Manage your emotions and you will manage the quality of your life!”</p>
<p style="text-align: justify;">Seorang karyawan pernah mengeluh demikian, “Kenapa ya, meskipun saya sudah tidur cukup, setiap kali bangun pagi saya selalu merasa masih lelah dan sepertinya butuh waktu lebih lama lagi untuk beristirahat. Padahal, saya sudah tidur 8-9 jam setiap hari.” Pernahkah juga Anda merasa tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat tetapi tubuh Anda terasa lelah sekali? Jawabannya adalah, karena kita tidak hanya memiliki energi fisik saja, tetapi juga memiliki energi emosional. Keduanya merupakan sumber energi Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda memboroskan energi emosi Anda, maka energi fisik Anda juga akan tersedot. Anda tentu pernah mengalami hari dimana Anda bertemu dengan berbagai peristiwa yang menyedot energi emosi Anda. Bos yang temperamental seharian, konflik dengan pasangan, rekan kerja yang menyebalkan, klien yang banyak maunya, atau kejadian-kejadian tak terduga seperti dijambret, komputer terkena virus, dan sebagainya. Semuanya menyedot energi emosi Anda dan tubuh fisik Anda turut menerima akibatnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Tapi, yang seringkali terjadi adalah, ada banyak orang yang membuang-buang energi emosinya bukan untuk mengurusi hal-hal penting. Inilah yang saya sebut dengan pemborosan emosi. Kalau Anda menghadapi masalah emosional yang berat, misalnya Anda konflik dengan rekan kerja dan kemudian Anda mengeluarkan energi emosi cukup besar untuk melakukan rekonsiliasi, itu adalah hal yang wajar. Tetapi kalau Anda tidak menghadapi situasi yang menuntut pengeluaran energi emosi kemudian Anda menghambur-hamburkan energi emosi Anda, inilah yang disebut dengan tindakan konyol. Menghamburkan energi emosi Anda sama saja dengan mengurangi produktifitas Anda serta menumpuk “sampah” dalam kehidupan Anda.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagaimanakah bentuk-bentuk pemborosan emosi ini? Inilah 3 hal sepele yang kadangkala tanpa kita sadari bisa memboroskan energi emosi kita secara luar biasa:</p>
<p style="text-align: justify;">1. Peristiwa-peristiwa kecil yang seharusnya bisa kita abaikan tetapi malah kita urusi. Misalnya, disalip pengendara motor dengan tidak sopan. Daripada kita menghabiskan energi untuk marah-marah, menjadi bad mood seharian, mending kita menyimpan energi itu untuk hal lain.</p>
<p style="text-align: justify;">2. Menggerutu dan Menggosip<br />
Para ahli organisasi dan psikolog sepakat bahwa menggerutu dan menggosip hampir tidak membawa manfaat baik untuk orang lain maupun untuk diri-sendiri. Jika Anda tidak terima dengan situasi yang terjadi, gunakan energi Anda untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa perubahan. Jika hal itu tidak bisa Anda ubah, terimalah atau menyingkirlah. Jangan buang-buang waktu dan energi emosi Anda dengan komentar-komentar yang tidak ada gunanya.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Berandai-andai<br />
Banyak orang menghabiskan energinya hanya untuk menyesal dan berandai-andai. Dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah dan kita harus menerimanya. Salah satunya adalah kelahiran kita. Daripada Anda berandai-andai dilahirkan di keluarga kaya, gunakan energi Anda untuk berkarya dan berusaha agar Anda menjadi orang yang lebih kaya. Berandai-andai hanyalah tindakan menjaring angin, melelahkan, menghabiskan waktu, namun tak menghasilkan apapun.</p>
<p style="text-align: justify;">Hematlah energi emosi Anda dan gunakanlah secara cerdas, maka Anda akan menjadi lebih produktif, dan pada gilirannya, kualitas hidup Anda akan menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align: justify;">“Kita tidak bisa menghentikan ombak yang datang, tetapi kita bisa belajar untuk berselancar di atasnya.”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/pemborosan-emosi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>LEARNING EQ FROM GENGHIS KAHN</title>
		<link>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/learning-eq-from-genghis-kahn/</link>
		<comments>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/learning-eq-from-genghis-kahn/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 20 Apr 2009 09:50:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Josua Wahyudi</dc:creator>
				<category><![CDATA[EQ]]></category>
		<category><![CDATA[Featured]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.josuawahyudi.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[
Ini adalah artikel yang pernah saya tulis untuk newsletter HR Excellency, salah lembaga pelatihan terkemuka di Indonesia yang dengan aktif mengembangkan kecerdasan emosi di berbagai perusahaan multinasional dan lembaga-lembaga pendidikan. So, selamat menikmati:
Beberapa orang menganggap Jenghis Khan adalah seorang penakluk yang buas dan barbar. Memang ada bagian-bagian dari tindakannya yang tidak pantas untuk kita tiru. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img src="/images/feature1.jpg" alt="" /></p>
<p style="text-align: justify;">Ini adalah artikel yang pernah saya tulis untuk newsletter HR Excellency, salah lembaga pelatihan terkemuka di Indonesia yang dengan aktif mengembangkan kecerdasan emosi di berbagai perusahaan multinasional dan lembaga-lembaga pendidikan. So, selamat menikmati:</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang menganggap Jenghis Khan adalah seorang penakluk yang buas dan barbar. Memang ada bagian-bagian dari tindakannya yang tidak pantas untuk kita tiru. Namun, jika Anda membaca kisah hidup dan prinsip-prinsip kehidupan yang ia pegang, Anda akan mengerti bahwa Jenghis Khan bukanlah seorang penguasa yang haus darah dan bertindak kejam tanpa alasan. Saya berani mengkategorikan Jenghis sebagai salah satu pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi. Semua tindakan yang ia lakukan bukanlah diputuskan dalam keadaan ia membabi buta, melainkan justru dengan kesadaran penuh. Salah satu ciri orang yang cerdas emosinya adalah, ia secara sadar MEMILIH untuk merasakan sesuatu dan mengekspresikan perasaan itu dalam bentuk tindakan yang sudah ia sadari sepenuhnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa orang memiliki kesalahan pemahaman bahwa orang yang cerdas emosinya tidak akan marah-marah dan selalu tersenyum tenang menghadapi apapun. Padahal, inti dari kecerdasan emosi bukanlah terletak pada ekspresinya, namun terletak pada KESADARANNYA dalam MEMILIH ekspresi tersebut. Artinya, orang yang cerdas emosinya juga bisa marah. Hanya saja, ia akan marah dengan sadar. Bahkan, bisa dikatakan bahwa memang ia memilih untuk marah karena ia sudah mempertimbangkan dampak dari kemarahannya dan melihat bahwa ekspresi marah adalah satu-satunya ekspresi yang paling tepat untuk situasi saat itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Jika Anda membaca kisah Jenghis Khan, setiap penumpasan yang kejam dan tanpa ampun selalu ia lakukan dengan penuh kesadaran, bukan dengan keadaan membabi buta. Jenghis adalah orang yang sangat menghargai kesetiaan dan komitmen di atas segalanya. Bahkan, Jenghis sendiri adalah seorang pemaaf. Ini terbukti ketika ia merekrut seseorang yang pernah hampir membunuhnya untuk menjadi salah satu jendral utamanya. Jika Jenghis melihat adanya kesetiaan, sportifitas, dan komitmen, ia akan menghargainya entah itu dilakukan oleh lawan maupun kawan. Tetapi ketika ia dikhianati dan melihat pelanggaran komitmen yang sudah disepakati bersama, Jenghis akan melakukan penghukuman yang mengerikan. Penghukuman itu ia lakukan bukan karena ia gelap mata, melainkan sebagai “monumen” agar orang lain bisa menghargai apa arti komitmen dan kesetiaan.</p>
<p style="text-align: justify;">Salah satu indikasi lain dari kecerdasan emosi Jenghis adalah kemampuannya untuk menguasai diri. Ada 3 kasus besar yang menjadi bukti dari kualitas pengendalian diri Jenghis. Pertama, ketika ia remaja, ia pernah ditangkap oleh sebuah suku Mongol tanpa alasan yang jelas. Setelah sekitar 1-2 minggu ia harus menjalani kehidupan tawanan yang mengerikan, dengan susah payah ia berhasil melarikan diri. Namun, ketika ia berhasil bergabung dengan keluarganya dan memiliki kesempatan untuk membangun kekuatan, ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam kepada suku yang menawannya. Karena saat itu, fokusnya adalah membangun kekuatan dan menjaga keluarganya, ia tetap bisa berpikir jernih dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi kemarahan untuk membalas dendam.</p>
<p style="text-align: justify;">Kedua, seperti yang saya ceritakan di atas. Suatu hari Jenghis hampir terbunuh dalam sebuah peperangan, namun beruntunglah ia bisa selamat. Dan di akhir peperangan, Jenghis berhasil menangkap orang yang hampir membunuhnya di medan perang. Namun ketika orang tersebut menawarkan diri untuk mengabdi dan berjanji setia kepadanya, Jenghis justru mengangkat orang tersebut sebagai salah satu jendral utamanya. Di kemudian hari Jendral ini menjadi salah satu tulang punggung dalam tentara Jenghis Khan. Sekali lagi, Jenghis tidak membiarkan emosinya memegang kendali, melainkan dengan pikiran jernih ia bisa melihat potensi seseorang dan mendayagunakan dengan baik.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketiga, ketika Jenghis Khan melakukan penyerangan besar-besaran ke wilayah kerajaan Khwarezm, Jenghis meminta semua negara jajahan mereka untuk mengirimkan tentara bantuan. Tetapi ada 1 negara jajahan yang menolak permintaan itu. Diceritakan pada saat itu, meski Jenghis sangat terhina dan marah besar, namun ia masih bisa menahan diri dan memfokuskan diri pada penyerangan. Ia bisa menunda keinginannya untuk “menghukum” negara jajahannya yang berkhianat demi sebuah tujuan yang lebih besar.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebuah lembaga internasional yang mendedikasikan diri dalam penelitian dan pengembangan kecerdasan emosi yang bernama Six Seconds mengajarkan bahwa salah satu indikasi kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam menunda “pemuasan hasrat” (delay gratification). Banyak orang tidak bisa bersabar untuk melampiaskan kemarahan, melampiaskan kesedihan, melampiaskan kebahagiaan, atau menunda hasrat dan keinginan yang sudah meluap-luap. Namun Jenghis Khan mampu melakukannya dan tetap berfokus pada tujuan yang lebih besar, hal inilah yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang paling disegani dalam sejarah (terlepas dari beberapa sisi negatif kehidupannya).</p>
<p style="text-align: justify;">Orang-orang yang sukses adalah orang yang mampu menguasai emosinya dan tidak membiarkan dirinya “ditunggangi” oleh emosinya. Sejauh mana Anda sudah menjadi tuan atas emosi Anda sendiri?</p>
<p style="text-align: justify;">“Emosi bisa menjadi tuan atau budak, tergantung apakah Anda memiliki kemampuan sebagai tuan atau budak?”</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.josuawahyudi.com/2009/04/20/learning-eq-from-genghis-kahn/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
