Life is Like A Roller Coaster

July 14, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Featured, Hot Product

eqmyouth-sm

PERTAMA DI INDONESIA!
Buku Kecerdasan Emosi Untuk Anak Muda yang didesain dengan FULL COLOR, FULL GAMBAR, FULL DESAIN, PLUS TES level EQ & Usia Emosi! 
  
DIJAMIN! Kamu belum pernah menemui buku kecerdasan emosi semenarik dan sedahsyat ini! Bukan cuma isinya yang seru, bahasanya ringan dan enak dibaca, tetapi juga penampilan buku ini yang sangat keren dan bergaya anak muda banget! 

Dalam buku ini, kamu akan menemukan:

  • Contoh nyata yang membuktikan bahwa IQ hanya berperan 20% untuk KESUKSESAN masa depanmu dan 80% sisanya justru ditentukan oleh tingkat EQ kamu!
  • Bagaimana cara praktis dan asyik untuk meningkatkan level EQ kamu dengan MENAKJUBKAN!
  • Darimana munculnya emosi dan bagaimana MENGENDALIKANnya untuk kepentinganmu!
  • Ternyata usia tidak menentukan kecerdasan emosimu! Ada orang yang sudah tua tapi emosinya masih TK! Ukurlah usia emosimu melalui kuisioner seru yang ada dalam buku ini!
  • Tahukah kamu bahwa ada yang namanya Termometer Emosi! Gimana cara kerjanya? Semua jelas tuntas dalam buku ini!
  • 4 Kondisi paling bahaya secara emosional! Temukan keempatnya sekaligus dalam buku ini
  • Bagaimana menjadi anak muda yang tidak dikendalikan oleh orang lain dan keadaan, BEBAS menentukan arah hidupmu!
  • Cara membaca emosi orang lain yang akan BERGUNA BANGET untuk membuatmu jadi orang hebat!
  • Dan masih banyak cerita seru, tips DAHSYAT, dan topic-topik asyik lainnya!  

Apa yang mereka katakan tentang buku ini:
  
“Buku ini ditulis oleh rekan Iwan dengan passion (semangat) yang luar biasa. Tidak banyak buku mengenai Kecerdasan Emosional ditulis untuk para rekan muda.Apalagi dengan bahasa yang pas dan dengan konteks ke-Indonesia-an. Tentu saja, saya sangat merekomendasikan buku ini dibaca, dihayati dan di-HIDUP-i.”
Anthony Dio Martin – Direktur HR Excellency & International Certified EQ Trainer from Six Seconds
  

“Dalam usia muda setiap manusia sesuai fitrahnya pasti mengalami masa-masa ketidakstabilan emosi. Penting rasanya setiap generasi muda menyadari kondisi tersebut, dan untuk bisa “pasang kuda-kuda” agar tidak tergelincir pada hal-hal yang merugikan tidak ada salahnya dengan membaca buku ini. Karena dengan membaca buku ini paling tidak kita sudah diingatkan lebih dulu agar kita bisa melewati masa-masa muda dengan “selamat” sampai kita memasuki jenjang usia berikutnya.”
Hedy Yunus – Penyanyi 

“Kamu akan mencari sebuah kamus, kalau kamu ingin menemukan arti sebuah kata, tapi kamu akan mencari buku ini setiap kamu ingin tahu arti dari kekuatan emosi yang ada dalam diri kamu, buku yang luar biasa. Setiap anak muda Indonesia harus membacanya.Tajam, praktis dan mencerahkan.”
Donny Dhirgantoro – Penulis Novel Bestseller “5 cm” 

“Ternyata kecerdasan emosi dapat menentukan nasib dan masa depan kita, banyak tips dan trik jitunya disini… Dan bagaimana mengolah  emosi… Mantab!”
Afif ”Numbo” Ariyanto – Comic Artist Caravan Studio; Salah satu comic artist utama Komik ALIA

Learning EQ From Autobots

July 10, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Featured

transfr2Meski pemutaran film Transformers – Revenge of The Fallen sudah berlangsung lebih dari seminggu, ternyata gedung bioskop masih dipenuhi dengan mereka-mereka yang belum punya kesempatan menyaksikan film fenomenal ini. Termasuk saya dan istri berada dalam kerumunan orang-orang itu. Bahkan kami sampai rela menunggu giliran nonton yang masih 4 jam karena kehabisan tiket di jadwal tayang terdekat.

Secara overall, it’s a great movie. Penuh adegan baku hantam para robot canggih dan didukung oleh teknologi pembuatan animasi yang sangat spektakuler menjadikan film ini benar-benar seperti “dream comes true” bagi para pecinta Transformers.

Namun, dasar trainer, rasanya kalau tidak mendapatkan insight saat nonton akan merasa “kekosongan” hati. Kali ini pun di saat saya fokus memelototi adegan demi adegan, naluri saya sebagai EQ trainer menangkap sebuah pesan yang sederhana namun sebenarnya sangat dalam.

Michael Bay berusaha menggambarkan robot-robot dalam film Transformer sebagai sebuah makhluk yang memiliki hati dan emosi. Bahkan ditunjukkan bahwa robot inipun bisa “menangis” ketika harus berpisah dengan manusia yang menjadi sahabatnya. Tapi itu bukanlah hal utama yang ingin saya tulis disini, justru saya tergelitik ketika melihat sebuah robot bernama Optimus Prime yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan seorang manusia.

transfr1

Bahkan, sekelompok robot protagonis yang disebut Autobots bersikeras untuk tinggal di bumi karena mereka merasa bahwa bumi harus diselamatkan dan dilindungi. Sebuah kalimat meluncur dari salah satu robot Autobots “Jangan sampai manusia punah dan tidak memiliki generasi penerus seperti yang terjadi pada bangsa kami.”

Padahal, jika ditilik, para Autobots sama sekali tidak punya kepentingan apapun dengan manusia dan bumi. Jika bumi hancur sekalipun, robot-robot itu masih bisa pindah ke planet lain dan hidup tanpa gangguan apapun. Mengapa mereka sampai repot-repot menyelamatkan bumi, sementara sebagian penduduk bumi justru malah menolak dan berusaha mengusir mereka pergi.

Disinilah naluri EQ saya menyala. Salah satu konsep EQ mengajarkan satu hal yang namanya Noble Goal. Orang yang memiliki kecerdasan emosi pada tingkat matang, hidupnya akan digerakkan oleh tujuan-tujuan mulia, yaitu tujuan untuk mengembangkan hidup orang lain dan meninggalkan warisan yang abadi dalam hidup banyak orang.

Film Transformer sepertinya mencoba menyindir kita, bahwa robot yang benda mati pun masih mengerti apa artinya hidup bagi orang lain. Sementara manusia yang seringkali dianggap sebagai makhluk Tuhan paling mulia dan tinggi derajatnya malah seringkali kehilangan hatinya dan bertindak bak “benda mati” tanpa perasaan.

Sudahkah hidup kita membawa kebaikan bagi banyak orang? Sudahkah hidup kita meninggalkan warisan abadi dalam hati banyak orang? Sudahkah kita hidup dengan hati yang mulia untuk orang lain? Jika belum, mungkin kita harus berkaca dulu pada para autobots…

Menikah Adalah Bunuh Diri

June 4, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Featured, Hot Product, Relationship

mabd2Apakah Anda percaya akan hidup yang “bahagia sampai selama-lamanya”?

Apakah menurut Anda dengan “cinta” saja segala sesuatu bisa dikalahkan?

Ataukah Anda menganggap romantisme sebagai tolok ukur kelanggengan pernikahan?

Mungkin ada belasan mitos keliru yang selama ini menjadi motor penggerak Anda dalam membangun pernikahan! Dan buku ini akan membedah semua mitos keliru ini. Anda mungkin akan shock dan terkejut menemukan berbagai prinsip yang selama ini Anda percayai ternyata adalah prinsip yang salah!

Buku ini begitu fenomenal karena mampu “mencelikkan” mata Anda dalam melihat pernikahan yang sesungguhnya. Bahkan saking fenomenalnya, mungkin akan ada orang-orang yang memilih tidak membaca buku ini karena takut terbangun dari fantasi mereka yang menipu! Jika Anda siap dengan kebenaran yang sesungguhnya, bacalah buku ini! Ini adalah buku wajib bagi Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan! Jangan berkata “yes, i do!” sebelum Anda membaca buku ini, it’s very dangerous!

Dengan desain yang sangat menawan dan berwarna, Anda akan membaca sambil terhibur! Temukan puluhan intermezzo, cerita-cerita lucu, gambar-gambar humor yang akan mengocok perut Anda sekaligus menyentil Anda dengan pembelajaran yang mendalam. Dapatkan juga puluhan cerita dan kasus nyata, bahkan termuat juga beberapa surat pembaca yang fenomenal plus komentar dari penulis.

APA KATA MEREKA TENTANG BUKU DAHSYAT INI?

“Buku yang berani mengungkap tentang pernikahan dengan lugas. Buku ini akan membuat orang yang belum menikah berpikir dahulu sebelum menikah, sedangkan bagi yang sudah maka buku ini akan menjadi pelajaran berguna. Pernikahan memang sebuah sekolah kehidupan tanpa kelulusan, jadi persiapkanlah dengan baik!”
- Bambang Syumanjaya
Konsultan Bisnis dan Keluarga dari Family DISCovery dan Penulis Buku Family DISCovery Way

“Sebuah panduan praktis tentang bagaimana memandang cinta dan pernikahan secara rasional. Mas Iwan piawai memaparkan kisah-kisah inspiratif dan mengemasnya dengan rancak. Inilah buku yang Anda butuhkan tepat di sebelah buku nikah Anda.”
– Roslina Verauli, M. Psi.,
Psikolog, Penulis Buku, dan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara

“Ketika menikah setiap orang pasti membayangkan kebahagiaan. Tapi mengapa banyak pernikahan yang akhirnya berubah menjadi neraka? Iwan membahas hal ini dengan gamblang, tuntas dan blak-blakan. Sebuah buku provokatif untuk menjadikan pernikahan Anda surga dunia!”
– Arvan Pradiansyah
Penulis best-seller “The 7 Laws of Happiness” & Host Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network

“Mungkin judul buku ini membuat Anda penasaran, atau malah menakutkan,tapi jangan khawatir… Kalau Anda membaca dari awal sampai akhir, sebetulnya buku ini mengulas dengan dalam tentang arti sebuah penikahan, bahwa pernikahan bukan ajang permainan antara kita dan pasangan kita. Bagi saya yang sudah menikah 15 tahun pun bisa berkata.. “iya nih, bener juga apa yang di tulis di buku ini”. Buku ini sarat dengan contoh-contoh peristiwa yang gamblang dan mungkin kita alami sendiri baik sengaja atau tidak. Penasaran??? ayo buka mata ,buka hati…. baca sampai habis buku ini!”
– Vivi Indrany
Fashion Designer

“Pernikahan adalah sebuah pilihan. Jika pernikahan adalah lomba lari, kita memilih untuk mengikuti lomba lari maraton bukan lomba lari pendek (sprint). Untuk itu dibutuhkan seorang pria yang sehat secara emosi, menikahi seorang wanita yang juga sehat secara emosi dan akan menghasilkan sebuah keluarga yang sehat secara emosi. Tidak bisa hanya salah satunya saja. Jangan pernah berani menikah tanpa itu!!! Buku ini membantu mewujudkannya.”
– Timotius Hong
Konsultan Senior untuk Pernikahan dan Kehidupan Keluarga

“Benar-benar serasa memutar video kehidupan perkawinan, baik pada diri kami maupun rekan-rekan lain, hasil karya tulisan yang HARUS menjadi bacaan wajib sebelum kita masuki masa-masa bahagia dalam tali pernikahan maupun yang sudah dalam ikatan pernikahan, terimakasih Pak Iwan dengan hasil karyanya yang sangat luar biasa dan terus membuat api kebahagiaan pernikahan kami selalu terjaga dan bertumbuh!
– Paulus Widjanarko
Dokter dan Pemerhati Kesehatan

SEGERA PESAN SEKARANG KE: gywpublishing@gmail.com!

“Dia Sudah Tidak Cinta!”

April 20, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Featured, Relationship

Suamiku adalah seorang insinyur, aku mencintai sifat apa adanya yang alami. 3 tahun masa pra nikah dan 5 tahun masa-masa pernikahan hingga saat ini. Sekarang, harus aku akui, bahwa aku mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasanku mencintainya pada waktu dulu telah berubah menjadi sesuatu yang tak menakjubkan lagi.

Aku seorang wanita yang sentimentil, benar-benar sensitif dan berperasaan halus. Aku merindukan saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Sering aku berfantasi dan membayangkan suamiku bisa menjadi seperti pria-pria romantis di film-film, bahkan membandingkannya dengan mantan pacar-pacarku yang terdahulu. Namun suamiku bertolak belakang, rasa sensitifnya kurang. Ketidakbecusannya menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan dan impianku tentang cinta. Dia orang yang terlalu apa adanya dan jauh dari romantis. Read more

PEMBOROSAN EMOSI

April 20, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Featured

“Manage your emotions and you will manage the quality of your life!”

Seorang karyawan pernah mengeluh demikian, “Kenapa ya, meskipun saya sudah tidur cukup, setiap kali bangun pagi saya selalu merasa masih lelah dan sepertinya butuh waktu lebih lama lagi untuk beristirahat. Padahal, saya sudah tidur 8-9 jam setiap hari.” Pernahkah juga Anda merasa tidak melakukan pekerjaan yang terlalu berat tetapi tubuh Anda terasa lelah sekali? Jawabannya adalah, karena kita tidak hanya memiliki energi fisik saja, tetapi juga memiliki energi emosional. Keduanya merupakan sumber energi Anda.

Jika Anda memboroskan energi emosi Anda, maka energi fisik Anda juga akan tersedot. Anda tentu pernah mengalami hari dimana Anda bertemu dengan berbagai peristiwa yang menyedot energi emosi Anda. Bos yang temperamental seharian, konflik dengan pasangan, rekan kerja yang menyebalkan, klien yang banyak maunya, atau kejadian-kejadian tak terduga seperti dijambret, komputer terkena virus, dan sebagainya. Semuanya menyedot energi emosi Anda dan tubuh fisik Anda turut menerima akibatnya.

Tapi, yang seringkali terjadi adalah, ada banyak orang yang membuang-buang energi emosinya bukan untuk mengurusi hal-hal penting. Inilah yang saya sebut dengan pemborosan emosi. Kalau Anda menghadapi masalah emosional yang berat, misalnya Anda konflik dengan rekan kerja dan kemudian Anda mengeluarkan energi emosi cukup besar untuk melakukan rekonsiliasi, itu adalah hal yang wajar. Tetapi kalau Anda tidak menghadapi situasi yang menuntut pengeluaran energi emosi kemudian Anda menghambur-hamburkan energi emosi Anda, inilah yang disebut dengan tindakan konyol. Menghamburkan energi emosi Anda sama saja dengan mengurangi produktifitas Anda serta menumpuk “sampah” dalam kehidupan Anda.

Bagaimanakah bentuk-bentuk pemborosan emosi ini? Inilah 3 hal sepele yang kadangkala tanpa kita sadari bisa memboroskan energi emosi kita secara luar biasa:

1. Peristiwa-peristiwa kecil yang seharusnya bisa kita abaikan tetapi malah kita urusi. Misalnya, disalip pengendara motor dengan tidak sopan. Daripada kita menghabiskan energi untuk marah-marah, menjadi bad mood seharian, mending kita menyimpan energi itu untuk hal lain.

2. Menggerutu dan Menggosip
Para ahli organisasi dan psikolog sepakat bahwa menggerutu dan menggosip hampir tidak membawa manfaat baik untuk orang lain maupun untuk diri-sendiri. Jika Anda tidak terima dengan situasi yang terjadi, gunakan energi Anda untuk melakukan sesuatu yang bisa membawa perubahan. Jika hal itu tidak bisa Anda ubah, terimalah atau menyingkirlah. Jangan buang-buang waktu dan energi emosi Anda dengan komentar-komentar yang tidak ada gunanya.

3. Berandai-andai
Banyak orang menghabiskan energinya hanya untuk menyesal dan berandai-andai. Dalam hidup ini ada hal-hal yang tidak bisa kita ubah dan kita harus menerimanya. Salah satunya adalah kelahiran kita. Daripada Anda berandai-andai dilahirkan di keluarga kaya, gunakan energi Anda untuk berkarya dan berusaha agar Anda menjadi orang yang lebih kaya. Berandai-andai hanyalah tindakan menjaring angin, melelahkan, menghabiskan waktu, namun tak menghasilkan apapun.

Hematlah energi emosi Anda dan gunakanlah secara cerdas, maka Anda akan menjadi lebih produktif, dan pada gilirannya, kualitas hidup Anda akan menjadi lebih baik.

“Kita tidak bisa menghentikan ombak yang datang, tetapi kita bisa belajar untuk berselancar di atasnya.”

LEARNING EQ FROM GENGHIS KAHN

April 20, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Featured

Ini adalah artikel yang pernah saya tulis untuk newsletter HR Excellency, salah lembaga pelatihan terkemuka di Indonesia yang dengan aktif mengembangkan kecerdasan emosi di berbagai perusahaan multinasional dan lembaga-lembaga pendidikan. So, selamat menikmati:

Beberapa orang menganggap Jenghis Khan adalah seorang penakluk yang buas dan barbar. Memang ada bagian-bagian dari tindakannya yang tidak pantas untuk kita tiru. Namun, jika Anda membaca kisah hidup dan prinsip-prinsip kehidupan yang ia pegang, Anda akan mengerti bahwa Jenghis Khan bukanlah seorang penguasa yang haus darah dan bertindak kejam tanpa alasan. Saya berani mengkategorikan Jenghis sebagai salah satu pemimpin yang memiliki kecerdasan emosi. Semua tindakan yang ia lakukan bukanlah diputuskan dalam keadaan ia membabi buta, melainkan justru dengan kesadaran penuh. Salah satu ciri orang yang cerdas emosinya adalah, ia secara sadar MEMILIH untuk merasakan sesuatu dan mengekspresikan perasaan itu dalam bentuk tindakan yang sudah ia sadari sepenuhnya.

Beberapa orang memiliki kesalahan pemahaman bahwa orang yang cerdas emosinya tidak akan marah-marah dan selalu tersenyum tenang menghadapi apapun. Padahal, inti dari kecerdasan emosi bukanlah terletak pada ekspresinya, namun terletak pada KESADARANNYA dalam MEMILIH ekspresi tersebut. Artinya, orang yang cerdas emosinya juga bisa marah. Hanya saja, ia akan marah dengan sadar. Bahkan, bisa dikatakan bahwa memang ia memilih untuk marah karena ia sudah mempertimbangkan dampak dari kemarahannya dan melihat bahwa ekspresi marah adalah satu-satunya ekspresi yang paling tepat untuk situasi saat itu.

Jika Anda membaca kisah Jenghis Khan, setiap penumpasan yang kejam dan tanpa ampun selalu ia lakukan dengan penuh kesadaran, bukan dengan keadaan membabi buta. Jenghis adalah orang yang sangat menghargai kesetiaan dan komitmen di atas segalanya. Bahkan, Jenghis sendiri adalah seorang pemaaf. Ini terbukti ketika ia merekrut seseorang yang pernah hampir membunuhnya untuk menjadi salah satu jendral utamanya. Jika Jenghis melihat adanya kesetiaan, sportifitas, dan komitmen, ia akan menghargainya entah itu dilakukan oleh lawan maupun kawan. Tetapi ketika ia dikhianati dan melihat pelanggaran komitmen yang sudah disepakati bersama, Jenghis akan melakukan penghukuman yang mengerikan. Penghukuman itu ia lakukan bukan karena ia gelap mata, melainkan sebagai “monumen” agar orang lain bisa menghargai apa arti komitmen dan kesetiaan.

Salah satu indikasi lain dari kecerdasan emosi Jenghis adalah kemampuannya untuk menguasai diri. Ada 3 kasus besar yang menjadi bukti dari kualitas pengendalian diri Jenghis. Pertama, ketika ia remaja, ia pernah ditangkap oleh sebuah suku Mongol tanpa alasan yang jelas. Setelah sekitar 1-2 minggu ia harus menjalani kehidupan tawanan yang mengerikan, dengan susah payah ia berhasil melarikan diri. Namun, ketika ia berhasil bergabung dengan keluarganya dan memiliki kesempatan untuk membangun kekuatan, ia bisa menahan diri untuk tidak membalas dendam kepada suku yang menawannya. Karena saat itu, fokusnya adalah membangun kekuatan dan menjaga keluarganya, ia tetap bisa berpikir jernih dan tidak membiarkan dirinya dikuasai oleh emosi kemarahan untuk membalas dendam.

Kedua, seperti yang saya ceritakan di atas. Suatu hari Jenghis hampir terbunuh dalam sebuah peperangan, namun beruntunglah ia bisa selamat. Dan di akhir peperangan, Jenghis berhasil menangkap orang yang hampir membunuhnya di medan perang. Namun ketika orang tersebut menawarkan diri untuk mengabdi dan berjanji setia kepadanya, Jenghis justru mengangkat orang tersebut sebagai salah satu jendral utamanya. Di kemudian hari Jendral ini menjadi salah satu tulang punggung dalam tentara Jenghis Khan. Sekali lagi, Jenghis tidak membiarkan emosinya memegang kendali, melainkan dengan pikiran jernih ia bisa melihat potensi seseorang dan mendayagunakan dengan baik.

Ketiga, ketika Jenghis Khan melakukan penyerangan besar-besaran ke wilayah kerajaan Khwarezm, Jenghis meminta semua negara jajahan mereka untuk mengirimkan tentara bantuan. Tetapi ada 1 negara jajahan yang menolak permintaan itu. Diceritakan pada saat itu, meski Jenghis sangat terhina dan marah besar, namun ia masih bisa menahan diri dan memfokuskan diri pada penyerangan. Ia bisa menunda keinginannya untuk “menghukum” negara jajahannya yang berkhianat demi sebuah tujuan yang lebih besar.

Sebuah lembaga internasional yang mendedikasikan diri dalam penelitian dan pengembangan kecerdasan emosi yang bernama Six Seconds mengajarkan bahwa salah satu indikasi kecerdasan emosi adalah kemampuan seseorang dalam menunda “pemuasan hasrat” (delay gratification). Banyak orang tidak bisa bersabar untuk melampiaskan kemarahan, melampiaskan kesedihan, melampiaskan kebahagiaan, atau menunda hasrat dan keinginan yang sudah meluap-luap. Namun Jenghis Khan mampu melakukannya dan tetap berfokus pada tujuan yang lebih besar, hal inilah yang membuatnya menjadi salah satu pemimpin yang paling disegani dalam sejarah (terlepas dari beberapa sisi negatif kehidupannya).

Orang-orang yang sukses adalah orang yang mampu menguasai emosinya dan tidak membiarkan dirinya “ditunggangi” oleh emosinya. Sejauh mana Anda sudah menjadi tuan atas emosi Anda sendiri?

“Emosi bisa menjadi tuan atau budak, tergantung apakah Anda memiliki kemampuan sebagai tuan atau budak?”