Kacamatamu = Masa Depanmu

July 14, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Light Wisdom

Saya rasa Anda tentu masih ingat dengan salah satu adegan komedi yang sering dipraktekkan para pelawak. Adegan itu adalah, sang pelawak memakai kacamata hitam, kemudian dia bertanya pada temannya, “Kenapa ya kok gelap banget? Lampu pada mati ya?” Dan kemudian sang rekan memberitahu bahwa dia memakai kacamata hitam.

Meski berkali-kali kita tonton adegan ini, namun tak jarang juga kita masih tersenyum dan tertawa menyaksikannya. Sebenarnya jika ditelisik lebih dalam, adegan ini sering terjadi dalam kehidupan kita.

Ketika saya meluncurkan buku saya yang berjudul “Menikah Adalah Bunuh Diri”, komentar dan opini segera bermunculan. Meski sebagian besar komentar adalah rasa penasaran, namun ada juga beberapa orang yang dengan terang-terangan melabel saya sebagai orang “sesat”, orang pesimis, orang yang punya luka batin dan trauma dengan pernikahan, dan berbagai komentar negatif lainnya. Padahal saat itu bukunya belum muncul di pasaran dan saya baru saja melakukan promosi pra-launching.

Tentu saja saya menjadi heran dan bertanya dalam hati, “Lho, mereka kan belum baca bukunya, kok mereka bisa menilai saya sebagai penyesat ya?” Ketika saya bertanya pada salah satu orang yang mengirimkan komentar itu dan meminta beliau membaca dulu sebelum berkomentar, beliau membalas dengan pernyataan, “saya tidak mau membaca buku dari orang sesat!” Nah, saya semakin bingung, yang menjadikan saya sesat adalah buku yang saya tulis atau justru buku saya menjadi sesat gara-gara saya sudah sesat duluan? Lagian, apakah dia bisa mengukur saya sesat atau tidak hanya dari sebuah judul buku yang bahkan belum dia lihat isinya, dan wujudnya sama sekali?

Hmmm… Bukankah orang-orang seperti ini cukup sering kita jumpai? Orang yang memakai kacamata hitam akan seluruh dunia menjadi hitam dan gelap, meskipun padahal sebenarnya dunia di sekitarnya begitu indah dan berwarna-warni.

Karena saya sudah dilihat dengan kacamata negatif, maka apapun yang saya lakukan dan sebagus apapun isi buku saya, baginya akan tetap terlihat negatif. Tentu saja saya memilih untuk tidak sakit hati dan menjadikan ini sebagai salah satu kekayaan pengalaman hidup yang bisa membuat saya semakin bijaksana. Malahan saya terus berusaha meng-add account facebook orang yang mengkritik saya itu, namun beliau selalu menolak.

Kacamata yang Anda pakai sangat menentukan akan jadi apa dunia yang Anda hidupi. Jika Anda selalu memandang kehidupan dengan kacamata sinis, negatif, dan pesimis, maka bisa dibayangkan akan jadi seperti apa kehidupan Anda. Dan pada akhirnya, tindakan-tindakan Anda pun akan berkutat di seputar sinisme, pesimisme, dan negatif-isme (maksa ya?)

Jadi saran saya, sebelum menilai segala sesuatu, akan lebih baik jika Anda membuka kacamata Anda lebih dahulu dan melihat “warna asli” dunia ini, baru kemudian Anda melakukan penilaian. Malahan, kadangkala kita harus berani memasang kacamata optimisme, kacamata positif, dan kacamata apresiasi, agar segala sesuatu yang tampak buruk bisa tetap terlihat indah di depan mata Anda.

Mengakhiri notes kali ini, saya ingin mengutip kata-kata dari seorang filsuf yang berbunyi:
“Tidak ada yang baik atau buruk di dunia ini, pikiran (baca:kacamata) kitalah yang menjadikannya ada.”

Keep Exciting!

*FYI: Penerbit sudah kehabisan stok Buku “Menikah Adalah Bunuh Diri” dan yang tersisa hanya yang ada di toko-toko buku saja. Rencananya dalam 1 bulan ke depan akan cetak ulang lagi. Terima kasih untuk teman-teman yang sudah membeli dan memberikan komentar membangun untuk buku ini!

Berkembang Karena Pintar? Atau Karena Malas?

June 10, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Light Wisdom

Sejak SMA saya selalu berpikir, sebenarnya yang membuat teknologi berkembang seperti sekarang ini karena adanya orang-orang yang rajin atau justru karena ada orang-orang yang malas?

lazy__by_nihilistkaBukankah orang membuat remote control karena malas bergerak dan ingin mengaktifkan semua peralatan sambil tiduran tanpa berpindah tempat? Bukankah orang membuat mesin cuci karena malas berkeringat sambil ngucek pakaian?

Kalau kita melihat film animasi “Wall-E”, kita akan melihat manusia-manusia yang bisa hidup bahkan tanpa menggerakkan tubuhnya karena kecanggihan teknologi yang luar biasa. Sepertinya ide-ide untuk menjadi makin malaslah yang justru mendorong manusia untuk menciptakan berbagai barang dan teknologi untuk mewujudkan ide-ide itu.

Jadi sebenarnya menjadi malas juga bisa membuat kita berkembang dong?

Hmmm… Jangan terlalu serius membacanya ya… Nanti pada jadi malas semua. Artikel ini hanya untuk menunjukkan pada Anda bahwa selalu ada berbagai perspektif yang berbeda dalam memandang sesuatu.

Cara Anda memandang sesuatu akan menentukan tindakan Anda. Berada di perspektif yang benar akan menuntun Anda pada tindakan yang benar. Jika Anda berpikir orang malas yang membuat berkembang tentu tindakan Anda akan berbeda dengan orang yang berpikir bahwa orang rajinlah yang bisa membuat dunia berkembang.

Selalulah terbuka dengan berbagai perspektif dan temukan “spot” perspektif yang terbaik. Bukannya ada ungkapan “posisi menentukan prestasi?”

Kalau Kita Mulai Tuli!

June 9, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Light Wisdom, Relationship

Suatu hari dua orang tuli sedang menunggu di sebuah halte bus. Mereka tidak saling kenal dan kebetulan berdiri bersebelahan. Karena sudah mulai bosan, seorang diantara mereka kebetulan memiliki ide untuk memulai percakapan. Lalu ditepuknya pundak orang tuli di sebelahnya.

Orang tuli 1: “Pak, itu benjolan di tangan Anda itu, kutil ya?”

Orang tuli 2: “Oh… Bukan pak… Ini namanya kutil…”

Orang tuli 1: “Ha…ha…ha… Maaf pak… Saya kira itu kutil…”

Orang tuli 2: “Iya sih, memang banyak yang tidak tahu kalau ini kutil…”

Orang tuli 1: “Iya…ya… Kalau orang nggak tahu bisa disangka kutil…”

 

one_ear_by_henry_morganAnda mungkin tertawa membaca cerita di atas, tapi tanpa kita sadari, inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Banyak orang mulai tidak peka dalam mendengar. Atasan tidak mau mendengar bawahan, bawahan malas mendengar atasannya, suami tidak mau mendengar istri, orang tua tidak mau mendengar anaknya, dan berbagai cacat komunikasi lainnya.

Dalam komunikasi, mendengar adalah sebuah elemen penting. Ketidakmampuan kita dalam mendengar orang lain seringkali menjadi salah satu penyebab utama hancurnya sebuah hubungan. Bukankah kita sudah sering mendengar pertanyaan “Mengapa Tuhan menciptakan 2 telinga dan hanya 1 mulut?” Yup! Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.

Jadi, seberapa baikkah “pendengaran” Anda?

Pintar Mengelola Uang: Strategi Ofensif vs Defensif

June 9, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Light Wisdom, Mix-up Wisdom

Mengelola keuangan pribadi itu ibarat seperti bermain sepak bola. Dalam kesempatan training mengenai money management for youth, saya selalu menjelaskan bahwa dalam mengelola keuangan, ada 2 strategi yang harus dijalankan, yaitu strategi Ofensif dan strategi Defensif.

football_by_mango_addictApakah strategi ofensif? Strategi ofensif adalah cara mengatur keuangan dengan memakainya untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. Contoh tindakan ofensif adalah dengan berinvestasi atau menggunakannya sebagai modal usaha. Ibarat bermain sepak bola, ini adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencetak gol sebanyak mungkin.

Sedangkan strategi Defensif adalah setiap tindakan yang dilakukan untuk menyimpan dan mengamankan uang yang sudah kita miliki. Contohnya dengan menabung, membatasi pengeluaran, berhemat, atau menahan diri tidak membeli barang yang tidak diperlukan. Ibarat bermain sepak bola, kita berusaha mengamankan gawang kita agar tidak kebobolan.

Nah, banyak yang bertanya, mana yang lebih baik? Menjadi ofensif atau defensif? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan pada para pelatih sepak bola, mana yang lebih bagus, menyerang atau bertahan? Tentu jawabnya adalah dua-duanya. Percuma kita mencetak gol terus tapi di saat yang sama kita juga kebobolan terus. Percuma juga kita menjaga gawang mati-matian tapi tidak pernah mencetak gol.

Tim sepak bola yang kuat dan berprestasi adalah mereka yang bisa menyerang dan bertahan dengan sama bagusnya. Begitu pula dengan mengelola keuangan kita.

Masalahnya, ada banyak orang yang hanya fokus di satu strategi saja. Saya mengenal seseorang yang tidak pernah menabung dan semua uangnya selalu dipakai untuk berbagai investasi dan modal usaha. Sehingga ketika investasi atau usahanya gagal, habislah semua uangnya. Terlalu banyak menyerang lupa bertahan juga bisa membuat kita kebobolan.

Sebaliknya, ada orang yang menyimpan uangnya rapat-rapat dan menabung sebanyak-banyaknya. Sebenarnya memang ini lebih mending daripada kasus di atas. Tapi tetap saja akan merugikan Anda. Mengapa? Karena bunga yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih kecil dari nilai inflasi per tahun. Bahkan bunga deposito saja masih lebih kecil dari nilai inflasi setahun. Jadi bila dipikir-pikir, uang Anda terus berkurang tiap tahun.

Yang sehat adalah, kita memiliki tabungan untuk berjaga-jaga sekaligus menyisihkan sebagian uang kita untuk diinvestasikan dan dijadikan modal usaha. Menyerang sekaligus bertahan dengan baik adalah strategi terbaik.

Bagaimana dengan strategi Anda?

Sebuah Kekuatan Bernama “Pengharapan”

May 6, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under Light Wisdom, Mix-up Wisdom

hope_by_h9351Sebuah penelitian menarik pernah dilakukan terhadap tikus. Seekor tikus dimasukkan ke dalam sebuah kotak solid yang tertutup rapat tanpa udara dan cahaya. Setelah beberapa kali hal ini dilakukan, hasilnya rata-rata tikus dalam kondisi demikian akan mati dalam 2-4 jam.

Kemudian seekor tikus dimasukkan dalam kotak yang serupa, tetapi diberikan sebuah lubang yang sangat kecil sedemikian hingga ada sedikit cahaya yang masuk namun tidak banyak berpengaruh pada volume udara yang masuk dalam kotak. Ternyata, setelah beberapa kali dilakukan, rata-rata tikus dalam kotak jenis kedua mati setelah sekitar 12-16 jam, bahkan ada yang bisa bertahan hingga sekitar 24 jam.

Mengapa sedikit lubang yang sangat kecil bisa sangat berpengaruh terhadap daya tahan tikus-tikus itu? Para ahli menyelidiki ternyata ketika tikus-tikus itu melihat sedikit cahaya, mereka berupaya keras menuju ke arah sumber cahaya dan mengira di situ ada jalan keluar sehingga mereka punya PENGHARAPAN yang lebih besar untuk bisa bebas dari situasi mengerikan itu.

Manusia bukan tikus. Manusia seharusnya jauh lebih tangguh daripada sekedar seekor tikus. Namun, sepertinya hukum yang sama berlaku juga pada manusia. Ketika manusia sudah hidup tanpa pengharapan, maka daya tahan dan saya juangnya menurun hingga seperempatnya. Bukankah sering kita dengar bahwa 2 orang yang sama-sama terkena kanker yang satu meninggal dalam beberapa minggu sedangkan yang lain sanggup bertahan hingga tahunan karena terus percaya bahwa dirinya bisa sembuh dan memelihara PENGHARAPANnya dengan setia.

PENGHARAPAN membuat kita mengeluarkan semua potensi kita. Dalam situasi yang sulit seperti sekarang ini, yang perlu kita lakukan selain berusaha keras adalah terus memelihara PENGHARAPAN kita. Jangan pernah berhenti berharap, setiap kali Anda bangun pagi, teruslah percaya bahwa itu akan menjadi hari terbaik Anda dan akan ada perubahan positif yang terjadi. Kalau ternyata belum terjadi? Tidak apa, besok bangun pagi, BERHARAPLAH sekali lagi. Lakukanlah terus-menerus, maka tanpa Anda sadari, Anda akan memiliki daya juang yang jauh lebih besar daripada orang lain yang mengawali harinya dengan keluh kesah dan putus asa.

Winston Churchill pernah berkata bahwa orang yang sukses adalah orang yang mampu mempertahankan semangatnya saat ia mengalami kegagalan. Dalam kata lain, orang yang sukses adalah orang yang tidak pernah kehilangan PENGHARAPAN meski dalam keadaan sulit sekalipun.

Pertanyaannya hari ini, masihkah Anda memiliki PENGHARAPAN? Dan lebih jauh lagi, kepada siapakah Anda BERHARAP? Kepada sesuatu yang benar dan kekal? Ataukah kepada sesuatu yang fana dan rapuh?

Keep Exciting!

Learning EQ From “Pet Society”!

May 6, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Light Wisdom

pet2

Pernahkah Anda mendengar mengenai Pet Society? Mungkin bagi Anda para profesional, kata tersebut terdengar asing. Tetapi bagi para mahasiswa, anak muda, dan penggila game yang punya account di Facebook, Pet Society adalah sebuah minigame yang wajib dicicipi.

Sebenarnya game Pet Society ini sangat sederhana. Anda diberikan seekor binatang peliharaan dan Anda bisa memberinya makan, mengajaknya bermain, memberi makan, memandikan, dan bahkan Anda bisa mendandani penampilan dan rumah binatang Anda. Yang membuat game ini adiktif adalah karena pihak game developer terus mengeluarkan berbagai item baru untuk dibeli, mulai dari baju, aksesoris, hingga berbagai perabotan rumah yang aneh-aneh dan menarik.

Yang membuat game ini menarik adalah Anda bisa mencari uang dan meningkatkan level binatang Anda. Uang yang Anda hasilkan bisa Anda pakai untuk membeli barang-barang baru. Pertanyaannya, bagaimanakah Anda bisa menghasilkan uang dan meningkatkan level binatang Anda? Ada sebuah cara unik, yaitu Anda harus mengunjungi rumah binatang peliharaan dari teman-teman Anda dan berinteraksi disana. Semakin banyak Anda melakukan kunjungan, semakin banyak uang yang Anda hasilkan. Semakin sering Anda berinteraksi, semakin cepat binatang Anda naik level.

pet3Kemudian, ada cara lain yang lebih unik untuk meningkatkan level binatang Anda. Yaitu, kalau Anda semakin banyak memberikan barang Anda kepada binatang milik orang lain, maka semakin cepat level binatang Anda naik. Dan hebatnya lagi, semakin mahal barang yang Anda hadiahkan, maka poin yang Anda terima semakin besar.

Mengingat game ini, saya jadi teringat dengan sebuah prinsip Kecerdasan Emosi, yaitu Anda harus menyentuh hati seseorang sebelum meminta uluran tangannya. Saya merasa game Pet Society mengajarkan kita prinsip memberi sebelum meminta. Uang dan level seringkali didapatkan ketika kita mau memberikan waktu untuk berkunjung dan berintraksi dengan pemain lain. Bahkan, ketika Anda berani berkorban dengan memberikan barang Anda yang mahal, Anda akan memperoleh poin level yang tinggi.

Kita seringkali meminta orang lain memenuhi keinginan dan kebutuhan kita, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa kita tidak pernah “mengisi” hidup orang lain dengan hal-hal positif lebih dahulu. Anda tidak pernah “menabung” hal positif kepada orang lain, tetapi Anda mengharapkan untuk “menarik” setoran dari hidup mereka? Bukankah ini hal yang tidak masuk akal? Ibarat ke bank, jika Anda tidak pernah menyetor tabungan, Anda tidak akan mungkin bisa menarik sesuatu dari sana bukan? Begitu pula dengan hubungan kita terhadap orang lain, jika Anda tidak pernah “menabung” terlebih dahulu, bagaimana mungkin Anda mengharapkan untuk “menarik” sesuatu?

Pet Society memang hanyalah mini game sederhana, tetapi mungkin Anda perlu sesekali mencobanya untuk mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan sosial selalu berlaku sebuah hukum: “Anda akan menabur apa yang Anda tuai”