Kalau Kita Mulai Tuli!
June 9, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Light Wisdom, Relationship
Suatu hari dua orang tuli sedang menunggu di sebuah halte bus. Mereka tidak saling kenal dan kebetulan berdiri bersebelahan. Karena sudah mulai bosan, seorang diantara mereka kebetulan memiliki ide untuk memulai percakapan. Lalu ditepuknya pundak orang tuli di sebelahnya.
Orang tuli 1: “Pak, itu benjolan di tangan Anda itu, kutil ya?”
Orang tuli 2: “Oh… Bukan pak… Ini namanya kutil…”
Orang tuli 1: “Ha…ha…ha… Maaf pak… Saya kira itu kutil…”
Orang tuli 2: “Iya sih, memang banyak yang tidak tahu kalau ini kutil…”
Orang tuli 1: “Iya…ya… Kalau orang nggak tahu bisa disangka kutil…”
Anda mungkin tertawa membaca cerita di atas, tapi tanpa kita sadari, inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Banyak orang mulai tidak peka dalam mendengar. Atasan tidak mau mendengar bawahan, bawahan malas mendengar atasannya, suami tidak mau mendengar istri, orang tua tidak mau mendengar anaknya, dan berbagai cacat komunikasi lainnya.
Dalam komunikasi, mendengar adalah sebuah elemen penting. Ketidakmampuan kita dalam mendengar orang lain seringkali menjadi salah satu penyebab utama hancurnya sebuah hubungan. Bukankah kita sudah sering mendengar pertanyaan “Mengapa Tuhan menciptakan 2 telinga dan hanya 1 mulut?” Yup! Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Jadi, seberapa baikkah “pendengaran” Anda?
Menikah Adalah Bunuh Diri
June 4, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Featured, Hot Product, Relationship
Apakah Anda percaya akan hidup yang “bahagia sampai selama-lamanya”?
Apakah menurut Anda dengan “cinta” saja segala sesuatu bisa dikalahkan?
Ataukah Anda menganggap romantisme sebagai tolok ukur kelanggengan pernikahan?
Mungkin ada belasan mitos keliru yang selama ini menjadi motor penggerak Anda dalam membangun pernikahan! Dan buku ini akan membedah semua mitos keliru ini. Anda mungkin akan shock dan terkejut menemukan berbagai prinsip yang selama ini Anda percayai ternyata adalah prinsip yang salah!
Buku ini begitu fenomenal karena mampu “mencelikkan” mata Anda dalam melihat pernikahan yang sesungguhnya. Bahkan saking fenomenalnya, mungkin akan ada orang-orang yang memilih tidak membaca buku ini karena takut terbangun dari fantasi mereka yang menipu! Jika Anda siap dengan kebenaran yang sesungguhnya, bacalah buku ini! Ini adalah buku wajib bagi Anda yang sedang mempersiapkan pernikahan! Jangan berkata “yes, i do!” sebelum Anda membaca buku ini, it’s very dangerous!
Dengan desain yang sangat menawan dan berwarna, Anda akan membaca sambil terhibur! Temukan puluhan intermezzo, cerita-cerita lucu, gambar-gambar humor yang akan mengocok perut Anda sekaligus menyentil Anda dengan pembelajaran yang mendalam. Dapatkan juga puluhan cerita dan kasus nyata, bahkan termuat juga beberapa surat pembaca yang fenomenal plus komentar dari penulis.
APA KATA MEREKA TENTANG BUKU DAHSYAT INI?
“Buku yang berani mengungkap tentang pernikahan dengan lugas. Buku ini akan membuat orang yang belum menikah berpikir dahulu sebelum menikah, sedangkan bagi yang sudah maka buku ini akan menjadi pelajaran berguna. Pernikahan memang sebuah sekolah kehidupan tanpa kelulusan, jadi persiapkanlah dengan baik!”
- Bambang Syumanjaya
Konsultan Bisnis dan Keluarga dari Family DISCovery dan Penulis Buku Family DISCovery Way
“Sebuah panduan praktis tentang bagaimana memandang cinta dan pernikahan secara rasional. Mas Iwan piawai memaparkan kisah-kisah inspiratif dan mengemasnya dengan rancak. Inilah buku yang Anda butuhkan tepat di sebelah buku nikah Anda.”
– Roslina Verauli, M. Psi.,
Psikolog, Penulis Buku, dan Pengajar di Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara
“Ketika menikah setiap orang pasti membayangkan kebahagiaan. Tapi mengapa banyak pernikahan yang akhirnya berubah menjadi neraka? Iwan membahas hal ini dengan gamblang, tuntas dan blak-blakan. Sebuah buku provokatif untuk menjadikan pernikahan Anda surga dunia!”
– Arvan Pradiansyah
Penulis best-seller “The 7 Laws of Happiness” & Host Talkshow “Smart Happiness” di SmartFM Network
“Mungkin judul buku ini membuat Anda penasaran, atau malah menakutkan,tapi jangan khawatir… Kalau Anda membaca dari awal sampai akhir, sebetulnya buku ini mengulas dengan dalam tentang arti sebuah penikahan, bahwa pernikahan bukan ajang permainan antara kita dan pasangan kita. Bagi saya yang sudah menikah 15 tahun pun bisa berkata.. “iya nih, bener juga apa yang di tulis di buku ini”. Buku ini sarat dengan contoh-contoh peristiwa yang gamblang dan mungkin kita alami sendiri baik sengaja atau tidak. Penasaran??? ayo buka mata ,buka hati…. baca sampai habis buku ini!”
– Vivi Indrany
Fashion Designer
“Pernikahan adalah sebuah pilihan. Jika pernikahan adalah lomba lari, kita memilih untuk mengikuti lomba lari maraton bukan lomba lari pendek (sprint). Untuk itu dibutuhkan seorang pria yang sehat secara emosi, menikahi seorang wanita yang juga sehat secara emosi dan akan menghasilkan sebuah keluarga yang sehat secara emosi. Tidak bisa hanya salah satunya saja. Jangan pernah berani menikah tanpa itu!!! Buku ini membantu mewujudkannya.”
– Timotius Hong
Konsultan Senior untuk Pernikahan dan Kehidupan Keluarga
“Benar-benar serasa memutar video kehidupan perkawinan, baik pada diri kami maupun rekan-rekan lain, hasil karya tulisan yang HARUS menjadi bacaan wajib sebelum kita masuki masa-masa bahagia dalam tali pernikahan maupun yang sudah dalam ikatan pernikahan, terimakasih Pak Iwan dengan hasil karyanya yang sangat luar biasa dan terus membuat api kebahagiaan pernikahan kami selalu terjaga dan bertumbuh!”
– Paulus Widjanarko
Dokter dan Pemerhati Kesehatan
SEGERA PESAN SEKARANG KE: gywpublishing@gmail.com!
“Dia Sudah Tidak Cinta!”
April 20, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Featured, Relationship

Suamiku adalah seorang insinyur, aku mencintai sifat apa adanya yang alami. 3 tahun masa pra nikah dan 5 tahun masa-masa pernikahan hingga saat ini. Sekarang, harus aku akui, bahwa aku mulai merasa lelah dengan semua ini, alasan-alasanku mencintainya pada waktu dulu telah berubah menjadi sesuatu yang tak menakjubkan lagi.
Aku seorang wanita yang sentimentil, benar-benar sensitif dan berperasaan halus. Aku merindukan saat romantis seperti seorang anak kecil yang menginginkan permen. Sering aku berfantasi dan membayangkan suamiku bisa menjadi seperti pria-pria romantis di film-film, bahkan membandingkannya dengan mantan pacar-pacarku yang terdahulu. Namun suamiku bertolak belakang, rasa sensitifnya kurang. Ketidakbecusannya menciptakan suasana romantis dalam pernikahan kami telah mematahkan harapan dan impianku tentang cinta. Dia orang yang terlalu apa adanya dan jauh dari romantis. Read more

