Boros = EQ Jongkok?
June 24, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ
Saya ingin menceritakan kepada Anda sebuah kisah yang sangat menarik. Seorang kenalan suatu hari bercerita mengenai kondisi keuangannya yang selalu minus dan membuatnya terjerat hutang. Ketika saya bertanya-tanya mengenai gaji dan gaya hidupnya, ada sebuah kenyataan yang cukup menarik. Di atas kertas, gajinya sangat cukup untuk menghidupi dirinya yang masih single, tetapi dia mudah sekali tergoda untuk membeli berbagai barang mulai dari handphone, kamera, aksesoris, pakaian, sepatu, dan sulit menahan diri untuk makan di tempat-tempat mahal.

Ketika saya bertanya apakah selama ini ia tidak tahu bahwa gaya hidupnyalah yang membuatnya “kebobolan” jawabannya sungguh mengherankan. Ia mengaku bahwa ia sadar gaya hidupnya selama ini yang membuatnya terjerat hutang, dan setiap kali akan membeli sesuatu, ia juga sadar bahwa jika ia nekad membeli barang itu, keuangannya akan menjadi minus. Namun selalu saja ia tidak bisa menahan godaan dan menyerah dengan keinginan hatinya yang menggebu-gebu. Bahkan seringkali ia menyesal sudah membeli barang-barang yang menurutnya sebenarnya tidak perlu.
Delay Gratification
Dalam konsep EQ, ada sebuah istilah yang disebut dengan “delay gratification”. Delay gratification adalah kemampuan untuk menunda atau menahan diri dalam memuaskan hasrat atau keinginan diri-sendiri.
Bicara mengenai delay gratification, ada sebuah penelitian populer yang pernah dilakukan terhadap sekelompok anak-anak. Mereka secara bergiliran, satu-persatu dimasukkan ke dalam ruangan yang berisi banyak permen. Kemudian mereka disuruh duduk menghadap sebuah meja, dan di atas meja itu diletakkan sebuah permen yang paling disukai semua anak-anak. Anak itu dijelaskan, jika ia sanggup menahan untuk tidak memakan permen itu selama 15 menit, maka ia akan mendapatkan permen yang sama dalam jumlah yang berlipat-lipat lebih banyak. Ternyata hasilnya sungguh mengherankan, lebih dari 50% anak-anak tidak mampu menahan godaan untuk memakan permen itu.
Dan penelitian lebih lanjut dilakukan selama 14 tahun ke depan. Ternyata anak-anak yang mampu menahan diri tidak makan permen itu, mereka berhasil bersekolah di sekolah-sekolah yang lebih bagus dan memiliki kualitas kehidupan yang lebih baik, sementara anak-anak yang gagal menahan diri dan memakan permen sebelum waktunya, umumnya menjadi orang-orang yang suka membuat onar dan beberapa dari mereka memiliki masalah dengan narkoba.
Penelitian ini adalah sebuah tes untuk memperlihatkan kemampuan dalam melakukan Delay Gratification. Pada usia anak-anak, hasil tersebut sebenarnya masih bisa dimaklumi karena otak mereka belum berkembang sepenuhnya, namun, para ahli mengatakan bahwa seharusnya orang dewasa memiliki kemampuan Delay Gratification yang jauh lebih tinggi. Tapi kenyataannya? Banyak sekali kita jumpai orang-orang yang tidak mampu menahani diri untuk membeli barang-barang yang mereka inginkan padahal mereka tahu bahwa ada kebutuhan lain yang sebenarnya lebih perlu untuk dibeli.
Bagaimana mengatasi situasi ini?
Bisakah kita meningkatkan kemampuan kita dalam melakukan Delay Gratification? Dalam kesempatan ini paling tidak ada 7 tips yang bisa Anda lakukan:
1. Hindari permen itu!
Jika Anda tidak pernah tahan dengan godaan membeli barang setiap kali Anda bepergian, maka yang perlu Anda lakukan adalah mengurangi frekuensi Anda pergi agar Anda tidak bertemu dengan “permen-permen” yang menggoda Anda
2. Batasi Kemampuan Anda
Jangan bawa banyak uang baik dalam bentuk cash maupun kartu. Ketika kita membawa banyak uang, secara psikologis kita akan terdorong untuk lebih mudah membelanjakannya
3. Mintalah bantuan
Ceritakan keinginan Anda untuk menahan diri dan berhemat pada orang-orang terdekat Anda dan minta mereka untuk membantu Anda mengingatkan dan mencegah Anda untuk melakukan pembelian-pembelian yang tidak perlu
4. Bayangkan keuntungannya
Setiap kali Anda tergoda untuk mengeluarkan uang Anda untuk hal-hal yang tidak perlu, segeralah membayangkan betapa banyak uang yang bisa Anda simpan dan kenikmatan yang jauh lebih besar yang bisa Anda peroleh jika Anda berhasil menahan diri. Misalnya, jika Anda ingin membeli Handphone baru, bayangkanlah diri Anda bisa membeli Handphone yang jauh lebih canggih dan mahal jika Anda bisa menahan diri. Selalulah berkata pada diri-sendiri, “Tahan sebentar sekarang, nanti bisa mendapat yang jauh lebih baik”.
5. Hindari HALT
HALT adalah singkatan dari Hungry, Angry, Lonely, Tired. 4 kondisi tersebut adalah saat-saat dimana kita paling rentan secara emosional dan tidak punya daya tahan menghadapi godaan dan problem emosional. Jika Anda sedang berada di salah satu kondisi tersebut, Anda akan cenderung lebih mudah menjadi royal dan menghamburkan uang lebih banyak.
6. Belajarlah dari hal yang sederhana
Latihlah kemampuan Delay Gratification ini dari hal-hal simpel, misalnya belajar mengantri, melakukan puasa, belajar lebih sabar dalam berkendaraan dan menyalip, dan berbagai hal sederhana lainnya.
7. Bayangkan kerugiannya!
Selain membayangkan keuntungannya, Anda juga harus membayangkan kerugian yang Anda lakukan jika Anda menjadi boros. Bayangkanlah Anda tidak punya uang, dikejar-kejar debt collector, tidak punya uang saat sakit, tidak bisa membantu orang tua yang kesulitan, dan berbagai hal buruk yang bisa terjadi akibat gaya hidup Anda yang boros.
Semoga saja dengan adanya 7 tips ini, Anda bisa menguasai perasaan Anda dan mampu melakukan delay gratification di saat-saat yang diperlukan.
“Money will come when you are doing the right thing.” - Mike Philips
Learning EQ from The Vulcans
June 24, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ
Setelah ditunggu-tunggu para fans setianya, akhirnya film terbaru Star Trek muncul. Saya yang ikut nonton di pemutaran perdana film ini di Jakarta harus berdesak-desakan dengan ratusan orang untuk menyaksikan film heboh ini. Meski saya bukanlah termasuk penggemar Star Trek dan tidak begitu tahu tokoh-tokohnya, tetapi kehebohan bisik-bisik sebelum film ini diluncurkan membuat saya penasaran ingin tahu seperti apa sebenarnya film ini.
Tentu saja dengan kecanggihan teknologi saat ini dan perkembangan pembuatan film yang sangat maju pesat membuat film ini cukup layak untuk dikategorikan sebagai salah satu film yang menghibur. Namun, namanya trainer, apalagi seorang trainer EQ seperti saya ini, biasanya nonton film dianggap seperti “kulakan”. Artinya, saat kami melihat sebuah film, kami akan memasang radar inspirasi dan mencoba menangkap detail-detail yang memungkinkan untuk kami jadikan referensi materi training.
Dalam film Star Trek kali ini, tidak butuh waktu lama bagi saya untuk menangkap sebuah insight yang sederhana tetapi sangat mendasar. Saya dengan segera menjadi tertarik dengan tokoh Mr. Spok dan budaya ras mereka yang disebut sebagai bangsa Vulcan. Semua orang Vulcan dibesarkan dengan pengembangan logika yang sangat kuat. Mereka menganut prinsip bahwa mengambil keputusan dan bertindak berdasarkan perasaan atau emosi adalah sebuah hal yang terlarang. Para Vulcans menganggap logika dan analisis berpikir sebagai satu-satunya metode yang paling baik. Itu sebabnya sejak kecil semua bangsa Vulcan, termasuk Mr. Spok dilatih dengan sangat luar biasa untuk mengembangkan otak logikanya dan terus menekan perasaan mereka.
Namun di tengah kehidupan, sehebat apapun Mr. Spok menekan perasaannya, tetap saja ia tidak bisa menghilangkan perasaan itu. Malahan, semakin ditekan akan semakin menggumpal dan sewaktu-waktu bisa meledak. Sebenarnya jika kita memahami prinsip EQ, kita akan tahu bahwa menekan dan memendam perasaan adalah sebuah tindakan berbahaya yang tidak bijaksana, justru kita harus menerima adanya emosi itu, dan mengekspresikannya dengan cara yang tepat pada saat yang tepat. Bahkan prinsip EQ juga menganjurkan kita untuk menggunakan baik perasaan maupun logika secara proporsional dalam mengambil keputusan dan bertindak.
Jadi, pelajaran EQ yang bisa kita peroleh dari para bangsa Vulcan dalam film Star Trek adalah, jangan ingkari emosi yang muncul dalam diri Anda, jangan berusaha membuang dan menekannya, melainkan terimalah kehadiran emosi itu baru kemudian kelola emosi itu untuk diekspresikan dengan cerdas. Keputusan yang sudah dipikirkan dan “dibumbui” dengan kadar emosi yang tepat justru bisa menghasilkan efektifitas yang berlipat!
Sama seperti kerja sama antara Captain Kirk dan Mr. Spok yang akhirnya berhasil melakukan hal-hal luar biasa! Begitulah jika pikiran dan perasaan bisa berjalan bersama.
Kalau Kita Mulai Tuli!
June 9, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Light Wisdom, Relationship
Suatu hari dua orang tuli sedang menunggu di sebuah halte bus. Mereka tidak saling kenal dan kebetulan berdiri bersebelahan. Karena sudah mulai bosan, seorang diantara mereka kebetulan memiliki ide untuk memulai percakapan. Lalu ditepuknya pundak orang tuli di sebelahnya.
Orang tuli 1: “Pak, itu benjolan di tangan Anda itu, kutil ya?”
Orang tuli 2: “Oh… Bukan pak… Ini namanya kutil…”
Orang tuli 1: “Ha…ha…ha… Maaf pak… Saya kira itu kutil…”
Orang tuli 2: “Iya sih, memang banyak yang tidak tahu kalau ini kutil…”
Orang tuli 1: “Iya…ya… Kalau orang nggak tahu bisa disangka kutil…”
Anda mungkin tertawa membaca cerita di atas, tapi tanpa kita sadari, inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Banyak orang mulai tidak peka dalam mendengar. Atasan tidak mau mendengar bawahan, bawahan malas mendengar atasannya, suami tidak mau mendengar istri, orang tua tidak mau mendengar anaknya, dan berbagai cacat komunikasi lainnya.
Dalam komunikasi, mendengar adalah sebuah elemen penting. Ketidakmampuan kita dalam mendengar orang lain seringkali menjadi salah satu penyebab utama hancurnya sebuah hubungan. Bukankah kita sudah sering mendengar pertanyaan “Mengapa Tuhan menciptakan 2 telinga dan hanya 1 mulut?” Yup! Supaya kita lebih banyak mendengar daripada berbicara.
Jadi, seberapa baikkah “pendengaran” Anda?
Pintar Mengelola Uang: Strategi Ofensif vs Defensif
June 9, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under Light Wisdom, Mix-up Wisdom
Mengelola keuangan pribadi itu ibarat seperti bermain sepak bola. Dalam kesempatan training mengenai money management for youth, saya selalu menjelaskan bahwa dalam mengelola keuangan, ada 2 strategi yang harus dijalankan, yaitu strategi Ofensif dan strategi Defensif.
Apakah strategi ofensif? Strategi ofensif adalah cara mengatur keuangan dengan memakainya untuk menghasilkan uang yang lebih banyak lagi. Contoh tindakan ofensif adalah dengan berinvestasi atau menggunakannya sebagai modal usaha. Ibarat bermain sepak bola, ini adalah semua usaha yang dilakukan untuk mencetak gol sebanyak mungkin.
Sedangkan strategi Defensif adalah setiap tindakan yang dilakukan untuk menyimpan dan mengamankan uang yang sudah kita miliki. Contohnya dengan menabung, membatasi pengeluaran, berhemat, atau menahan diri tidak membeli barang yang tidak diperlukan. Ibarat bermain sepak bola, kita berusaha mengamankan gawang kita agar tidak kebobolan.
Nah, banyak yang bertanya, mana yang lebih baik? Menjadi ofensif atau defensif? Pertanyaan yang sama juga bisa diajukan pada para pelatih sepak bola, mana yang lebih bagus, menyerang atau bertahan? Tentu jawabnya adalah dua-duanya. Percuma kita mencetak gol terus tapi di saat yang sama kita juga kebobolan terus. Percuma juga kita menjaga gawang mati-matian tapi tidak pernah mencetak gol.
Tim sepak bola yang kuat dan berprestasi adalah mereka yang bisa menyerang dan bertahan dengan sama bagusnya. Begitu pula dengan mengelola keuangan kita.
Masalahnya, ada banyak orang yang hanya fokus di satu strategi saja. Saya mengenal seseorang yang tidak pernah menabung dan semua uangnya selalu dipakai untuk berbagai investasi dan modal usaha. Sehingga ketika investasi atau usahanya gagal, habislah semua uangnya. Terlalu banyak menyerang lupa bertahan juga bisa membuat kita kebobolan.
Sebaliknya, ada orang yang menyimpan uangnya rapat-rapat dan menabung sebanyak-banyaknya. Sebenarnya memang ini lebih mending daripada kasus di atas. Tapi tetap saja akan merugikan Anda. Mengapa? Karena bunga yang Anda peroleh dari tabungan Anda lebih kecil dari nilai inflasi per tahun. Bahkan bunga deposito saja masih lebih kecil dari nilai inflasi setahun. Jadi bila dipikir-pikir, uang Anda terus berkurang tiap tahun.
Yang sehat adalah, kita memiliki tabungan untuk berjaga-jaga sekaligus menyisihkan sebagian uang kita untuk diinvestasikan dan dijadikan modal usaha. Menyerang sekaligus bertahan dengan baik adalah strategi terbaik.
Bagaimana dengan strategi Anda?
Learning EQ From “Pet Society”!
May 6, 2009 by Josua Wahyudi
Filed under EQ, Light Wisdom

Pernahkah Anda mendengar mengenai Pet Society? Mungkin bagi Anda para profesional, kata tersebut terdengar asing. Tetapi bagi para mahasiswa, anak muda, dan penggila game yang punya account di Facebook, Pet Society adalah sebuah minigame yang wajib dicicipi.
Sebenarnya game Pet Society ini sangat sederhana. Anda diberikan seekor binatang peliharaan dan Anda bisa memberinya makan, mengajaknya bermain, memberi makan, memandikan, dan bahkan Anda bisa mendandani penampilan dan rumah binatang Anda. Yang membuat game ini adiktif adalah karena pihak game developer terus mengeluarkan berbagai item baru untuk dibeli, mulai dari baju, aksesoris, hingga berbagai perabotan rumah yang aneh-aneh dan menarik.
Yang membuat game ini menarik adalah Anda bisa mencari uang dan meningkatkan level binatang Anda. Uang yang Anda hasilkan bisa Anda pakai untuk membeli barang-barang baru. Pertanyaannya, bagaimanakah Anda bisa menghasilkan uang dan meningkatkan level binatang Anda? Ada sebuah cara unik, yaitu Anda harus mengunjungi rumah binatang peliharaan dari teman-teman Anda dan berinteraksi disana. Semakin banyak Anda melakukan kunjungan, semakin banyak uang yang Anda hasilkan. Semakin sering Anda berinteraksi, semakin cepat binatang Anda naik level.
Kemudian, ada cara lain yang lebih unik untuk meningkatkan level binatang Anda. Yaitu, kalau Anda semakin banyak memberikan barang Anda kepada binatang milik orang lain, maka semakin cepat level binatang Anda naik. Dan hebatnya lagi, semakin mahal barang yang Anda hadiahkan, maka poin yang Anda terima semakin besar.
Mengingat game ini, saya jadi teringat dengan sebuah prinsip Kecerdasan Emosi, yaitu Anda harus menyentuh hati seseorang sebelum meminta uluran tangannya. Saya merasa game Pet Society mengajarkan kita prinsip memberi sebelum meminta. Uang dan level seringkali didapatkan ketika kita mau memberikan waktu untuk berkunjung dan berintraksi dengan pemain lain. Bahkan, ketika Anda berani berkorban dengan memberikan barang Anda yang mahal, Anda akan memperoleh poin level yang tinggi.
Kita seringkali meminta orang lain memenuhi keinginan dan kebutuhan kita, tetapi kita tidak pernah menyadari bahwa kita tidak pernah “mengisi” hidup orang lain dengan hal-hal positif lebih dahulu. Anda tidak pernah “menabung” hal positif kepada orang lain, tetapi Anda mengharapkan untuk “menarik” setoran dari hidup mereka? Bukankah ini hal yang tidak masuk akal? Ibarat ke bank, jika Anda tidak pernah menyetor tabungan, Anda tidak akan mungkin bisa menarik sesuatu dari sana bukan? Begitu pula dengan hubungan kita terhadap orang lain, jika Anda tidak pernah “menabung” terlebih dahulu, bagaimana mungkin Anda mengharapkan untuk “menarik” sesuatu?
Pet Society memang hanyalah mini game sederhana, tetapi mungkin Anda perlu sesekali mencobanya untuk mengetahui bahwa ternyata dalam kehidupan sosial selalu berlaku sebuah hukum: “Anda akan menabur apa yang Anda tuai”

