Learning EQ From Autobots

July 10, 2009 by Josua Wahyudi  
Filed under EQ, Featured

transfr2Meski pemutaran film Transformers – RevengeĀ of The Fallen sudah berlangsung lebih dari seminggu, ternyata gedung bioskop masih dipenuhi dengan mereka-mereka yang belum punya kesempatan menyaksikan film fenomenal ini. Termasuk saya dan istri berada dalam kerumunan orang-orang itu. Bahkan kami sampai rela menunggu giliran nonton yang masih 4 jam karena kehabisan tiket di jadwal tayang terdekat.

Secara overall, it’s a great movie. Penuh adegan baku hantam para robot canggih dan didukung oleh teknologi pembuatan animasi yang sangat spektakuler menjadikan film ini benar-benar seperti “dream comes true” bagi para pecinta Transformers.

Namun, dasar trainer, rasanya kalau tidak mendapatkan insight saat nonton akan merasa “kekosongan” hati. Kali ini pun di saat saya fokus memelototi adegan demi adegan, naluri saya sebagai EQ trainer menangkap sebuah pesan yang sederhana namun sebenarnya sangat dalam.

Michael Bay berusaha menggambarkan robot-robot dalam film Transformer sebagai sebuah makhluk yang memiliki hati dan emosi. Bahkan ditunjukkan bahwa robot inipun bisa “menangis” ketika harus berpisah dengan manusia yang menjadi sahabatnya. Tapi itu bukanlah hal utama yang ingin saya tulis disini, justru saya tergelitik ketika melihat sebuah robot bernama Optimus Prime yang rela mengorbankan dirinya demi menyelamatkan seorang manusia.

transfr1

Bahkan, sekelompok robot protagonis yang disebut Autobots bersikeras untuk tinggal di bumi karena mereka merasa bahwa bumi harus diselamatkan dan dilindungi. Sebuah kalimat meluncur dari salah satu robot Autobots “Jangan sampai manusia punah dan tidak memiliki generasi penerus seperti yang terjadi pada bangsa kami.”

Padahal, jika ditilik, para Autobots sama sekali tidak punya kepentingan apapun dengan manusia dan bumi. Jika bumi hancur sekalipun, robot-robot itu masih bisa pindah ke planet lain dan hidup tanpa gangguan apapun. Mengapa mereka sampai repot-repot menyelamatkan bumi, sementara sebagian penduduk bumi justru malah menolak dan berusaha mengusir mereka pergi.

Disinilah naluri EQ saya menyala. Salah satu konsep EQ mengajarkan satu hal yang namanya Noble Goal. Orang yang memiliki kecerdasan emosi pada tingkat matang, hidupnya akan digerakkan oleh tujuan-tujuan mulia, yaitu tujuan untuk mengembangkan hidup orang lain dan meninggalkan warisan yang abadi dalam hidup banyak orang.

Film Transformer sepertinya mencoba menyindir kita, bahwa robot yang benda mati pun masih mengerti apa artinya hidup bagi orang lain. Sementara manusia yang seringkali dianggap sebagai makhluk Tuhan paling mulia dan tinggi derajatnya malah seringkali kehilangan hatinya dan bertindak bak “benda mati” tanpa perasaan.

Sudahkah hidup kita membawa kebaikan bagi banyak orang? Sudahkah hidup kita meninggalkan warisan abadi dalam hati banyak orang? Sudahkah kita hidup dengan hati yang mulia untuk orang lain? Jika belum, mungkin kita harus berkaca dulu pada para autobots…